“Kamu benar-benar baik-baik saja?”
Kami berdiri di dekat pintu masuk supermarket dan Ibu bertanya untuk ke sekian kalinya. Rai tidak menjawab, hanya menatap balik ke dalam mata Ibu yang memerhatikannya dengan saksama. Ketenangan dalam tatapan Rai perlahan meyakinkan Ibu, hingga akhirnya ia menghela napas panjang. Lalu tiba-tiba Ibu teringat ada satu barang yang lupa dibeli. Ia pun memintaku menunggu sebentar.
Aku tidak keberatan. Dalam hati, aku berjanji akan menjaga Rai dengan lebih teliti kali ini.
Sebelum pergi, Ibu memeriksa tanganku berkali-kali, memastikan tidak ada memar atau luka sedikit pun. Baru setelah merasa yakin, ia melangkah pergi, sesekali menoleh ke belakang sambil tersenyum hangat.
Rai tetap berdiri di tempatnya, dekat pintu masuk. Si Hantu Clo masih sesekali tertawa, terus menggoda Rai soal kejadian kipas angin tadi, namun tak satu pun dari kami yang mempedulikannya.
Orang-orang terus datang dan pergi. Mereka hanya melirik sekilas pada sosok gadis yang berdiri diam di sana, lalu berlalu tanpa menoleh lagi.
Hingga seorang anak kecil lewat sambil menjilat es krim dengan nikmat.
Saat aku sedang berusaha membujuk Rai untuk bergeser sedikit agar tidak menghalangi jalan orang lain, aku melihat pandangan Rai mengikuti pergerakan anak itu. Matanya tak lepas dari benda dingin di tangan anak kecil itu, sebelum akhirnya ia menoleh dan memindai sekeliling pintu masuk.
Ah, tentu saja. Tidak heran ia tertarik. Setelah Ibu memberikannya beberapa kali, ternyata ia juga menyukai es krim. Sama besarnya dengan rasa sukaku. Namun aku memintanya bersabar menunggu sampai Ibu kembali.
Sayangnya, Rai tidak mendengarkan. Ia melangkah mendekati konter penjualan, menatap tajam gambar-gambar di spanduk yang memajang berbagai pilihan rasa dan bentuk.
Tunggu dulu! Seruku dalam hati, mencoba mengingatkannya lagi.
Namun tiba-tiba, seorang pria paruh baya muncul dari balik meja dan bertanya, “Mau beli? Yang mana?”
Rai tidak menjawab. Pria itu mengernyit melihatnya. “Mau beli atau tidak?”
Rai hanya menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip.
Si penjual balas menatap, tampak berpikir sejenak. Ia mengamati sekeliling, lalu pandangannya beralih padaku, mengamatiku dari atas ke bawah seolah sedang memastikan sesuatu. Perilakunya membuatku merasa tidak nyaman.
Lalu matanya sedikit membulat, seolah mendapat kesimpulan. “Oh, tidak punya uang, ya?”