“Lagi! Lagi! Lagi!”
“Habisi! Habisi! Habisi!”
“Ayo, Stone! Hajar dia sampai mati!”
Suara riuh rendah bergema memecah udara, bercampur dengan makian dan umpatan yang tak sabar.
Di atas arena, berdiri seorang pria bertubuh raksasa bertopeng, tampak seperti gunung yang hidup. Di dekat kakinya, terkapar seorang remaja laki-laki yang sudah babak belur, wajahnya penuh memar dan darah.
Orang-orang terus bersorak gembira melihat penderitaan itu. Sementara di sudut utara, berdiri seorang pria kurus yang sama sekali tidak terganggu oleh keributan di depannya. Di hadapannya terbentang meja panjang yang dipenuhi tumpukan uang. Ia sibuk menyusun lembaran-lembaran itu dengan rapi dan presisi, seolah tidak ada hal lain yang penting selain uang di tangannya. Sesekali ia menampar tangan-tangan yang berani merogoh tumpukan itu tanpa perlu menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepala.
Setelah mengamati arena sejenak, pandangan Rai beralih ke tumpukan uang itu, lalu menatap lurus ke arah si pria kurus. Sang Bandar.
“Apa ini? Kamu mau ikut bertarung?” tanya Si Hantu Clo yang sudah mulai pulih dari keterkejutannya.
Rai tidak menjawab, tapi Si Hantu Clo tampak tidak membutuhkan jawaban. Ia malah bertepuk tangan riang. “Bagus! Ayo, hajar mereka semua!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku menghela napas panjang. Kukira ia akan mencegah, tapi ternyata sia-sia saja berharap hantu itu berada di pihakku. Padahal tadi ia berteriak mencegah Rai, kini malah bersorak mendukung bahaya.
“Tapi berhati-hatilah. Tampaknya si Stone itu... yah, begitulah.” Si Hantu Clo mengangkat bahu acuh tak acuh tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
Aku semakin kesal. Hantu ini tahu sesuatu tapi memilih bungkam! Membuatku semakin penasaran sekaligus takut. Bagaimana kalau pria itu jauh lebih berbahaya dari yang terlihat?
Pandangan Si Hantu Clo kembali ke arena, di mana remaja yang tadi terjatuh perlahan bangkit berdiri dengan gemetar. Tubuhnya sudah mencapai batas kemampuan, namun tekadnya masih keras kepala untuk bertahan. Penonton pun bersorak lebih keras lagi.
“Wah, dia punya nyali yang besar,” komentar si Hantu Clo tanpa rasa belas kasih sedikit pun.
Aku ingin memutar bola mata. Oi! Tidakkah kau lihat dia sudah hampir mati? Di mana yang “wah”?!
“Ayo, Stone! Hajar dia!”
“Bertahan anak muda! Jangan menyerah!”
Sorakan itu tak terbendung. Aku benar-benar heran. Apa yang menyenangkan dari pertunjukan penyiksaan seperti ini?
Tiba-tiba si Pria Kekar yang dipanggil Stone itu tertawa keras. “Masih belum menyerah? Kamu tahu kan, kalau terus begini kau bisa mati?” ucapnya dengan nada gembira, tanpa rasa iba sedikit pun.
Remaja itu berdiri sempoyongan, bibirnya pecah berdarah saat ia bergumam pelan, “Harus... bertahan.”
Aku tercengang. Kenapa? Ia sudah terluka begitu parah, tapi masih saja bersikeras?