Suara tawa dan cemoohan masih menggema di seluruh ruangan bawah tanah, hingga tiba-tiba Sang Bandar tersentak seolah teringat sesuatu dan berteriak, “Tunggu sebentar!”
Rai yang baru saja melangkah menuju arena seketika berhenti, lalu menoleh perlahan.
Sang Bandar membuka mulutnya, namun tertegun cukup lama. Seolah lupa apa yang hendak ia ucapkan. Aku tidak menyalahkannya. Tatapan Rai yang datar tanpa ekspresi itu entah kenapa memang terasa begitu mengintimidasi.
Setelah beberapa saat mengumpulkan nyali, ia berdeham pelan. “Kau... apakah kau tahu aturan di sini?”
Rai diam saja, hanya menunggu. Aku melihat keringat dingin mulai menetes di pelipis Sang Bandar. Ia tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan.
“Kau memang akan mendapat semua uang taruhan jika menang, tapi setelah dipotong tiga puluh persen dulu. Biaya pengurusan, begitulah.”
Si Hantu Clo langsung mengumpat kesal.
Rai tidak menunjukkan reaksi sedikit pun. Aku curiga dia bahkan tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan sang Bandar. Tanpa menanggapi, ia berbalik kembali dan melangkah pergi. Di setiap langkahnya, suara tawa dan ejekan makin keras terdengar.
“Ha! Siapa yang mau bertaruh pada gadis itu?”
“Dia sama sekali tidak tahu apa-apa! Pastikan dia tetap harus bayar kalau kalah!”
“Kenapa ada anak kecil di sini? Apakah dia tersesat?”
“Mungkin anak orang kaya yang bosan dan ingin cari sensasi?”
“Tentu saja! Dan ini kesempatan bagus buat kita untung besar!”
Suara-suara itu bersahut-sahutan. Semua orang berlomba-lomba memasang taruhan, semuanya hanya untuk satu orang: Stone. Tidak ada satu pun yang percaya pada Rai.
Melihat itu, Sang Bandar sempat menyela, “Hei, tidak adakah yang mau bertaruh pada gadis ini?”
Semua mata menatapnya seolah ia sudah gila. “Siapa yang mau rugi? Stone belum pernah kalah! Apalagi melawan gadis sekecil itu?”