“Jadi,” Rai memiringkan kepalanya tenang. “Apakah kita bisa mulai sekarang?”
Stone menyeringai lebar.
Aku bisa melihat amarah membara di matanya. Mungkin baginya, mendapatkan tantangan dari seorang bocah kemarin sore membuatnya berang, alih-alih senang.
Penonton pun ikut meledak berteriak dan memaki, seolah mereka sendiri yang sedang ditantang.
Aku bingung. Kenapa mereka ikutan marah? Bukankah Rai hanya menantang Stone? Apa hubungannya dengan mereka?
Di sampingku, Si Hantu Clo bertepuk tangan riang sambil berseru lantang, seolah semua orang bisa mendengarnya, “Benar sekali! Ayo pasang lagi! Keluarkan semua isi kantong kalian! Bagus! Teruskan!”
Sementara itu, suara Sang Bandar terdengar panik, “Mundur! Jangan mendorong! Kalian akan menimpaku!”
Namun lembaran uang terus melayang dari segala arah, menumpuk semakin tinggi di atas meja, bahkan melebihi jumlah taruhan sebelumnya. Rai hanya melirik sekilas tanpa ekspresi, lalu kembali menatap ke depan. Sikap acuh tak acuh ini justru semakin menyulut emosi mereka.
“Sial! Apakah dia baru saja meremehkan kita?”
“Lihat wajahnya! Sombong sekali dia!”
“Aku sudah tidak sabar melihat Stone menghajarnya!”
“Benar! Beri dia pelajaran yang pantas! Habisi dia!”
Seruan mereka bersahut-sahutan, bergema membelah udara hingga seolah menggetarkan panggung arena. Stone masih menyeringai, kali ini terlihat lebih bersemangat. Entah karena dukungan itu atau karena tumpukan uang yang makin menggunung. Matanya yang merah menatap Rai dengan penuh penghinaan. Aku menggigil kedinginan.
“Jangan salahkan aku kalau kau mati hari ini,” ucap Stone dengan nada ancaman. “Aku tidak membeda-bedakan lawan. Tapi karena kau masih muda, kuberi kesempatan menyerang duluan. Silakan.”
Rai tidak bergerak sedikit pun, seolah tidak mendengarkan. Hal ini membuat penonton semakin kesal.
“Dia tidak tahu caranya menyerang duluan? Sungguh menyia-nyiakan kesempatan!”
“Mungkin dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi?”
“Ah, tentu saja! Dia pasti bingung!”