“Bagaimana, Tuan? Apakah Tuan berminat membelinya?”
Seorang pria paruh baya membungkuk sambil tersenyum kaku kepada sosok bertopeng yang duduk tenang di ruangan khusus itu. Di hadapannya, Tuan itu perlahan meniup uap teh yang mengepul. Di belakangnya, dua orang berdiri tegak tanpa ekspresi sedikit pun. Tak perlu bertanya, mereka jelas adalah pengawalnya.
Kalau Si Hantu Clo ada di sini, ia pasti akan langsung mengenali pria paruh baya ini. Dialah si penjual es krim, yang memiliki tanda hitam besar menempel di tengkuknya. Sejak masuk, ia tak henti-henti memuji “barang bagus” yang berhasil didapatkannya, menjabarkan segala hal mulai dari penampilan, perkiraan usia, tinggi badan, hingga sifat yang menurutnya menguntungkan.
“Tenang saja, Tuan. Gadis itu terlihat polos dan bodoh. Saya membawanya dengan sangat rapi, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.”
Sosok bertopeng itu menyeruput tehnya pelan. “Kau yakin tidak ada yang mengikutimu?”
Pria paruh baya itu tersenyum penuh keyakinan, senyum yang tampak menjilat dan tidak jujur. “Tentu saja. Ini bukan pertama kalinya saya melakukan pekerjaan semacam ini. Sangat bersih, Tuan.”
Tuan itu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja, hendak melanjutkan pembicaraan. Namun tiba-tiba, suara riuh dari arena menggema hingga ke ruangan itu, memecah suasana tenang.
“Habisi! Habisi! Habisi!”
“Ayo, Stone! Hajar dia sampai mati!”