THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #31

BAB 28: ITU DIA (2)

Si Hantu Clo tertawa terbahak-bahak sampai terguling.

Aku mengerutkan kening. Kenapa dia tertawa tanpa henti hari ini? Dia memang cerewet dan menyebalkan, selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Tapi baru kali ini ia tertawa terus-menerus, seolah keseriusannya di tanah pekuburan waktu itu hanyalah mimpi.

Tiba-tiba aku merasa curiga. Apa yang sebenarnya ia temukan sehingga begitu gembira? Ia bahkan menepuk pundakku berkali-kali sambil menatap tumpukan uang itu, seolah dialah yang baru saja memenangkannya.

“Kita kaya raya! Kita bisa beli es krim beserta truknya!” serunya riang, seolah-olah ia bisa menikmati es krim juga.

Aku memutar mata. Bukankah sudah jelas uang itu milik Rai? Rai yang berjuang, jadi terserah dia mau menggunakannya untuk apa. Dan tentu saja aku sangat bersyukur Rai menang. Bukan karena uangnya, tapi karena dia selamat. Saat melihat tinju raksasa Stone tadi, lututku sudah lemas. Aku tahu Rai kuat, tapi tetap saja... bagaimana kalau dia terluka? Syukurlah semuanya baik-baik saja.

Tampaknya hanya aku yang masih berdebar hebat karena pertarungan tadi. Rai berdiri tenang seolah pertarungan dahsyat itu tidak pernah terjadi. Matanya terus terpaku pada tumpukan uang di meja, membuat Sang Bandar tampak bingung harus memulai dari mana.

“Ehm... sebentar ya,” Sang Bandar berdeham gugup. Ia terdiam cukup lama, mencari kata-kata yang tepat namun tak menemukannya. Akhirnya ia menunduk dengan senyum canggung. “Saya... saya ambilkan kantong dulu.”

Ia sibuk membuka laci dengan tangan gemetar, berkali-kali menarik karung besar dengan susah payah sebelum meletakkannya di atas meja. Wajar saja kalau dia begitu ketakutan, siapa yang menyangka bahwa gadis yang tampak rapuh ini bisa mengalahkan jawara yang tak terkalahkan hanya dengan satu jentikan jari? Aku sendiri pun masih merasa semuanya seperti mimpi.

“Saya... akan mengemasnya sekarang,” lapornya terbata-bata.

Rai hanya mengangguk pelan.

Di bawah tatapan tajam Rai, Sang Bandar menahan napas, bergerak sehati-hati mungkin seolah satu kesalahan kecil saja bisa merenggut nyawanya. Ia memasukkan semua uang itu tanpa sisa, lalu menyerahkan karung yang sangat berat itu kepada Rai.

Namun Rai justru mengernyit. Keringat dingin langsung membasahi pelipis Sang Bandar.

“Tiga puluh persen,” ucap Rai serius.

Aku terkejut. Dia mau membagi hasilnya? Padahal dialah yang bekerja keras. Bukankah itu tidak adil? Si Hantu Clo langsung mengumpat kesal, sementara wajah Sang Bandar seketika memucat.

Lihat selengkapnya