Rai belum sepenuhnya melangkah keluar dari kerumunan ketika tiba-tiba ia berhenti mendadak.
Seluruh ruangan bawah tanah masih diselimuti keheningan. Ratusan pasang mata yang mengawasinya seketika melebar, lalu dengan tergesa-gesa memalingkan wajah ke arah lain. Aku mengernyit bingung. Ada apa sebenarnya?
Rai tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap tajam ke arah lorong sempit tempat kami masuk tadi, yang kini tampak lengang, namun seolah ia menyadari sesuatu yang tak bisa kami rasakan. Hatiku pun mulai berdegup cemas.
Sayangnya, kerumunan itu salah paham. Mereka mengira Rai berhenti karena merasa terganggu dengan tatapan mereka. Seketika mereka sibuk mengobrol basa-basi sambil mundur menjauh, berhamburan ke segala arah seperti kawanan lalat yang terbang berserakan setelah dilempari batu.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari ujung lorong itu, bergema hingga ke seluruh penjuru arena. Semua kepala menoleh serentak.
Langkah kaki berderap cepat mendekat, lalu sesosok pemuda berjubah hitam muncul. Di sisi kiri jubah depannya terpampang jelas lambang elang terbang berwarna hitam keperakan. Pemuda itu memandang sekeliling dengan wajah serius, sebelum tiba-tiba menyunggingkan senyum jahil.
“Yo!” Ia melambaikan tangan riang. Di belakangnya, beberapa sosok serupa bermunculan.
Namun sapaan itu tidak disambut baik. Kepanikan luar biasa langsung meledak di antara kerumunan.
“Oh, tidak! Itu mereka!”
“Bagaimana bisa mereka menemukan tempat ini?”
“Sial! Apa-apaan hari ini, kenapa sial terus?”
“Jangan injak kakiku!”
“Minggir! Menyingkir!”
Di tengah kekacauan, pemuda itu justru tertawa geli, seolah sangat menikmati pemandangan orang-orang yang ketakutan. Sementara itu, pasukannya sudah bergerak sigap, melumpuhkan siapa saja yang ada di dekat mereka dengan gerakan cepat dan terlatih.
Aku berteriak dalam hati agar Rai segera pergi, sayangnya satu-satunya jalan keluar yang kuketahui adalah lewat lorong yang kini sudah dikuasai orang-orang asing itu.
Siapakah mereka? Dari reaksi semua orang... sepertinya mereka semacam pihak berwenang? Tapi kenapa kedengarannya begitu mengerikan? Rasanya aku pernah melihat jubah seperti ini sebelumnya, tapi entah di mana.
Belum sempat aku berpikir panjang, pakaianku tiba-tiba ditarik. Aku melirik dan mendapati sepasang mata cemas milik si Remaja yang tumbang itu.