THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #33

BAB 30: ITU DIA (4)

“Sial, Dash. Sudah kubilang, jangan menyeka keringatmu di bajuku!”

Terdengar suara tawa.

“Diam, Kyle. Kubunuh kau nanti.”

Tawa itu tidak berhenti sehingga perdebatan berlanjut, sampai sebuah suara tenang menyela di saluran komunikasi itu.

“Jadi, bagaimana?”

Seketika suara-suara berisik itu berhenti, berganti dengan kepatuhan yang serius.

“Bersih.” Suara yang kaku merespons dari sisi lain.

“Di sisiku juga,” sahut sebuah suara yang terdengar maskulin untuk seorang perempuan.

Suara lain menggumamkan persetujuan di belakangnya, disertai keluhan tak ada habisnya. Yang tentu saja diabaikan semua orang.

“Di dalam aman, Bos.” Suara ceria melapor. “Tapi, ada beberapa ekor yang lolos ke arahmu.” Ia tiba-tiba tertawa. “Aku mendengar hal-hal menarik di sini. Mau dengar?”

Suara mengeluh menyahut, “Apapun menarik di matamu, Kyle. Walaupun itu cuma celana terbalik.”

Seseorang mendengus.

Suara perempuan maskulin menyambar antusias, “Apa itu? Apa itu? Kamu menangkap bahan eksperimen untukku?”

Tiba-tiba sambungan terputus dari beberapa arah sekaligus.

“Lihat, Bos! Mereka tidak menghargaiku!” keluh suara perempuan itu.

Namun orang yang dipanggil ‘Bos’ tidak lagi menyimak keluhan rekannya. Perhatiannya teralihkan pada sosok yang baru saja muncul di belakangnya, tepat setelah ia melumpuhkan orang terakhir yang mencoba kabur.

Niskala berbalik.

Di pisahkan oleh jarak beberapa meter, di hadapannya berdiri seorang gadis semampai berambut hitam panjang sepunggung, mencengkeram sebuah karung besar yang sebagian terseret di tanah dan sebagian lagi bertumpu di pundaknya. Ia memiringkan kepala, mencoba melihat wajah gadis itu yang tertutup poni panjang, dan seketika tertegun.

Oh. Itu dia.

Gadis yang ia temui di perkemahan evakuasi waktu itu. Yang berdiri di tepi jurang dengan tatapan kosong tak berjiwa. Yang menendang perawat palsu hingga terlempar keluar tenda. Yang dengan tenang menyeruput tehnya saat para atasan mengawasinya dengan waspada. Yang tampak tahu alasan mengapa mereka memanggilnya, tapi memilih untuk tidak peduli.

Niskala menatapnya heran.

Padahal waktu itu, gadis ini tampak setengah mati, seolah jiwanya telah pergi, hanya menatap kosong pada kejauhan seakan-akan asing terhadap dunia. Tapi, apa ini? Apakah dia baru saja merampok arena bawah tanah? Bentuk dan berat karung itu sudah cukup menjelaskan isinya. Untuk apa gadis semuda dia membutuhkan uang sebanyak itu? Dan bagaimana caranya dia mendapatkannya dari tempat berbahaya seperti ini?

Lihat selengkapnya