Ruangan itu dingin.
Sama dinginnya dengan tatapan mata Rai saat ini.
Dua petugas yang duduk di seberang meja mengalihkan pandangannya untuk ke sekian kali. Tampak tidak tahan menatap terlalu lama.
Aku menahan napas. Paham rasanya kenapa mereka tidak tahan.
Karena aku pun sama.
Rai duduk tenang. Tangannya terikat borgol. Tidak berontak. Tidak mencoba melarikan diri. Hanya menatap ke depan tanpa ekspresi. Namun justru ketenangannya itulah yang membuat suhu ruangan terasa semakin jatuh, seolah udara dingin itu memancar langsung dari dirinya.
Aku menggigit bibir, tidak berani mengatakan apapun. Padahal seharusnya aku meminta maaf padanya. Seharusnya aku berbicara. Sebab, karena akulah Rai berakhir di ruangan interogasi ini.
Dan semua itu terjadi... karena pertarungan singkat namun sengit di gang sempit tadi.
Pertarungan yang bahkan sampai sekarang... masih membuatku berkeringat dingin.
Pertarungan dengan petugas berjubah itu.
Yang kemudian memborgol dan menyita uang Rai, sebelum membawanya ke kantor polisi untuk interogasi, sementara ia sendiri telah menghilang setelah mengantarkan Rai duduk di ruangan. Tak tampak batang hidungnya lagi.
Tapi, mungkin itu bagus. Karena petugas berjubah itu sangat menakutkan.
Aku... tidak sanggup melihatnya tanpa gemetar.
Kehadirannya hanya akan mengingatkanku pada pertarungan mereka beberapa waktu lalu, saat Rai menolak menyerahkan uangnya, yang kemudian berakhir dengan adu jotos yang tak terduga.
Namun pada saat yang sama, aku juga tahu bahwa Rai sangat keras kepala.
Aku bahkan tidak menduga bahwa mereka akan bertarung.
Itu terjadi begitu saja.
Di gang itu.
Gang yang masih dipenuhi orang-orang terkapar tak sadarkan diri.
Nah. Aku jadi teringat lagi.