“Mas, parfumnya cheesy sekali.”
Aku mengatakannya sambil melipat kemeja putih milik Dimas. Hidungku menangkap aroma parfum manis yang terlalu menyengat, bercampur wangi vanila sintetis yang entah kenapa mengingatkanku pada pengharum ruangan di toilet mal.
Dimas yang sedang melepas jam tangan langsung menoleh.
“Apaan, sih? Parfum mahal, tahu.”
“Oh, mahal?” Aku mengangkat kemejanya, lalu mengendus sekali lagi. “Aromanya seperti permen karet yang jatuh ke got, terus dipungut lagi.”