Pukul enam pagi, aku sudah duduk di meja makan dengan secangkir teh hangat, selembar kertas, dan seorang bayi berusia satu bulan yang terbaring nyaman di bouncer-nya.
Di kertas itu, aku menulis tiga nama.
Dimas. Rania. Sekretaris.
Lalu, tepat di bawahnya, kutulis satu kalimat besar-besar.
OPERASI PARFUM MURAHAN.