Pukul sembilan pagi, Rania mengirim pesan.
Ka, aku otw, ya! Nanti aku mau ngobrol lama sama Kakak.
Aku membaca pesan itu sambil menggendong Nara. Di sampingku, Dimas sedang duduk santai di sofa, sibuk memilih dasi untuk pergi ke kantor.
Aku melirik suamiku.
Lalu melirik Nara.
Lalu kembali melirik suamiku.
“Nak,” bisikku, “hari ini kita harus memastikan Papa tidak punya kesempatan berduaan dengan Tante Rania.”
Nara menggeliat.
“Euh! Aguu!”
Aku mengangguk serius.
“Bagus, Ma. Suruh Papa pergi jauh. Kalau perlu ke luar negeri.”
Aku hampir tertawa.
Sayangnya, anggaran rumah tangga kami belum mencakup tiket pesawat untuk suami yang dicurigai berselingkuh.
Jadi, aku harus kreatif.
Dan kebetulan, di rumah ini ada satu orang yang sangat cocok menjadi partner operasi.
Namanya Bi Asih.
Usianya hampir enam puluh tahun, tetapi energinya bisa mengalahkan tiga orang panitia arisan. Dia juga punya kemampuan ajaib: meminta tolong satu hal, lalu menambahkan sebelas pekerjaan lain sebelum orang yang dimintai tolong sempat menjawab.
Aku memanggilnya dari dapur.
“Bi Asih!”
“Iya, Bu!”
“Bisa ke sini sebentar?”
Bi Asih muncul sambil membawa lap.
“Kenapa, Bu? Kompor meledak? Gas habis? Atau ada cicak jatuh di kamar?”
“Tidak ada yang meledak, Bi.”
“Syukurlah. Kalau kompor meledak, saya sudah mau pensiun dini.”
Aku menghela napas.
Operasi ini baru dimulai dan kesabaranku sudah diuji.
“Mas,” kataku sambil duduk di sebelah Dimas, “hari ini kamu ada acara?”
“Tidak. Kenapa?”
“Bagus. Aku mau minta tolong.”
Dimas menurunkan ponselnya.
“Apa?”
Aku memberikan selembar daftar belanja yang sudah kusiapkan sejak subuh.
Isinya panjang.
Sangat panjang.
Ada beras, telur, ayam, ikan, sayuran, bumbu dapur, buah, kebutuhan bayi, sampai beberapa bahan yang bahkan aku sendiri harus mencari namanya di internet.
Dimas membaca daftar itu dengan dahi berkerut.
“Amara, ini belanja bulanan atau mau buka restoran?”
“Belanja rumah, Mas.”
“Kenapa harus ke pasar?”
“Karena pasar dekat rumah sedang renovasi. Kata Bi Asih, harga di Pasar Sumber Rezeki jauh lebih murah.”
Bi Asih yang sedang lewat langsung berhenti.
Aku meliriknya.
Dia melirikku.
Lalu, dengan ekspresi seolah baru saja menerima wahyu, dia mengangguk.
“Betul, Pak. Jauh lebih murah.”
Dimas memandang kami bergantian.
“Pasar Sumber Rezeki itu di mana?”
“Ujung kota, Pak,” jawab Bi Asih mantap.
“Ujung kota?”
“Iya. Tapi tenang, Pak. Saya hafal jalannya.”
Aku menahan senyum.
Sebenarnya aku tidak tahu apakah pasar itu benar-benar lebih murah. Yang kutahu, pasar tersebut cukup jauh untuk membuat Dimas tidak bisa pulang dalam waktu singkat.
Apalagi jika ditemani Bi Asih.
“Mas,” kataku lembut, “sekalian temani Bi Asih. Dia sudah tua, kasihan kalau harus membawa belanjaan sebanyak ini sendirian.”
Bi Asih langsung menepuk dadanya.
“Betul, Pak. Punggung saya memang sering sakit. Tapi kalau belanja diskon, sakitnya bisa sembuh sementara.”
Dimas menatap daftar belanja lagi.
“Kenapa bukan pesan lewat aplikasi?”
Aku tersenyum.
“Karena aku ingin memilih sayur yang segar, Mas.”
Alasan yang sangat masuk akal.
Tidak mungkin aku berkata, Aku ingin kamu pergi sejauh mungkin supaya tidak punya kesempatan berduaan dengan selingkuhanmu.
Itu terlalu jujur untuk pukul sembilan pagi.
Akhirnya, Dimas bangkit sambil mengambil kunci mobil.
“Ya sudah. Aku antar Bi Asih.”
Aku tersenyum manis.
“Terima kasih, Mas. Hati-hati, ya.”
Nara mendadak bersuara.
“Ngyaa! Ekh! Aguu!”
Aku menunduk, pura-pura membetulkan selimutnya.
“Ma, pastikan Papa beli semuanya. Jangan sampai dia pulang cepat karena lupa membeli daun bawang.”
Aku hampir tersedak.
Tenang, Nak.