Di pagi hari, Victoria mengenakan mantel tebal dan sarung tangan. Dia mengunjungi makam kedua orang tuanya, ditemani Luther. Udara pagi itu sangat dingin menusuk kulit, tapi tak menjadikan Victoria berbalik arah. Dia terus berjalan hingga tiba di depan sebuah gerbang dengan lambang seekor kuda yang mengangkat kedua kaki depannya.
Victoria bersimpuh di atas rerumputan hijau di antara dua makam yang berdampingan, Balthazar Celeste, Lucinda Hawthorne, nama yang terukir di nisannya. Dua karangan bunga dia letakkan di atas makam tersebut. Semilir angin pagi melewati helaian rambut Victoria dan membelai lembut kulit wajahnya.
Gadis itu diam beberapa saat. Satu per satu hal memilukan yang dia alami mulai berputar di ingatan. Bagaimana Jacob membentaknya, Izebel menghukumnya, dan Loralei mengambil barang-barang miliknya.
"Aku sangat merindukan kalian, Ayah, Ibu," ungkap Victoria dengan suara tercekat. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya, hingga perlahan menetes, jatuh ke atas tanah.
Luther ikut berlutut seraya mengelus pelan pundak Victoria. Dia tak berniat mengganggu dengan menyuruhnya berhenti menangis. Biarlah sang putri meluapkan semua kesedihan di tempat ini, agar beban di hatinya sedikit berkurang.
"Kalau kalian masih hidup, pasti Loralei dan orang tuanya tidak bisa menyakitiku 'kan, Yah, Bu?" Sebelah tangan Victoria mengusap lelehan air mata di pipinya. "Paman Gal dan Kak Luther juga baik padaku. Tapi, mereka juga tak bisa melawan Yang Mulia Raja dan Ratu," imbuhnya.
Belum puas Victoria mengeluarkan isi hatinya, tiba-tiba saja dua orang prajurit datang ke pemakaman. Mereka berjalan tergesa-gesa menghampiri Victoria dan Luther.
"Tuan Putri," kata salah satunya dengan napas yang terengah-engah. Victoria dan Luther menoleh bersamaan. Keduanya mengerutkan kening melihat kedatangan dua prajurit itu.
"Ratu memanggil Anda. Rombongan dari Silverethia sudah memasuki wilayah Velendria, dan sebentar lagi akan tiba di istana. Anda diminta untuk segera hadir," ucap salah satunya sambil membungkuk hormat.
Victoria terdiam sejenak, beberapa detik kemudian, senyuman kecil terbit di bibirnya. Kini dia dan Luther mengikuti dua prajurit itu, meninggalkan pemakaman keluarga inti kerajaan.
Begitu tiba di istana, Victoria langsung mempersiapkan diri dengan dibantu dua orang pelayan wanita. Gaun cokelat susu berpadu dengan hijau tua, dilengkapi manik-manik yang berkilauan, kini melekat sempurna di tubuh mungilnya. Rambut peraknya ditata rapi. Lalu, mahkota yang seharusnya untuk Loralei, kini berada di atas kepalanya.
"Anda sangat cantik, Tuan Putri," ucap salah satu pelayan itu memujinya.
Victoria tersenyum lebar. Meskipun keluarganya jahat, setidaknya masih ada para pelayan yang bersikap baik padanya. "Terima kasih."
Tak lama, Izebel dan Loralei datang. Keduanya melayangkan tatapan tak suka pada Victoria.
"Tersenyum dan bicaralah sekadarnya saja. Jika sampai kau mengadu yang tidak-tidak pada pamanmu, bersiaplah tidur di ruang bawah tanah. Kau mengerti?" ujar Izebel memperingatkannya.
Victoria mengangguk dengan tatapan lemah. Di usia yang masih belia, dia harus memendam perasaannya sendiri. Seolah tidak ada tempat lagi untuknya berkeluh kesah.
Izebel berjalan lebih dulu, diikuti Loralei dan Victoria yang berdampingan. Loralei menggenggam tangan sepupunya itu. Tapi, tak hanya sekadar genggaman biasa. Dia meremasnya kuat hingga Victoria meringis kesakitan. Namun, dia hanya bisa pasrah dan kembali menampilkan senyuman palsunya. Daripada harus mengambil risiko jika membuat masalah dengan putri Jacob itu.
Mereka berdiri tepat di depan istana. Menyaksikan kereta kuda berlapis perak mulai memasuki gerbang dengan gagahnya. Empat ekor kuda putih berlari kecil, menarik sang kusir beserta penumpangnya yang duduk anggun di dalam kereta.
"Kau sudah memperingatkannya?" bisik Jacob pada Izebel.
Izebel menyunggingkan senyuman miring seraya mengangguk.
Kini kereta kuda tersebut berhenti di hadapan mereka. Si kusir turun, lalu membukakan pintu kereta dan menjulurkan tangannya.