The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #5

Chapter 4

Victoria berdiri lesu di depan istana saat melepas kepergian Maveth dan Abigail. Matanya sayu, sangat jauh berbeda dari tiga hari yang lalu, hari di mana dia menyambut paman dan bibinya itu.


"Victoria, jaga dirimu baik-baik, Sayang. Bibi akan sangat merindukanmu," ucap Abigail sambil memeluknya.


"Kenapa tak tinggal lebih lama lagi, Bi?" tanya Victoria dengan nada kecewa.


Abigail mengembus napas berat. "Inginnya begitu. Tapi, mungkin lain kali saja."


Pada awalnya mereka berencana menginap di Velendria selama dua minggu. Namun, setelah penolakan yang dilontarkan Jacob, kedua pihak kerajaan itu kini semakin canggung. Bahkan selama berada di sana, Maveth dan Abigail tak dijamu sebagaimana layaknya tamu terhormat.


"Yang Mulia, kami percayakan Victoria pada Anda. Semoga Anda bisa menjaganya dengan baik," kata Maveth. Suaranya datar, rasa kekeluargaan seolah hilang hanya dalam tiga hari.


Jacob tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya mengangguk sekali sebagai jawaban.


Kereta kuda yang berkilau diterpa sinar mentari pagi itu mulai melaju pelan keluar gerbang. Masih terbayang dalam ingatan Victoria, bagaimana dia mengkhayal ikut keluar dari Velendria bersama kereta kuda perak tersebut.


Terbiasa menahan air mata di depan keluarga Jacob, Victoria benar-benar tidak menangis saat ini meski hatinya menjerit. Kenapa dia tak dibiarkan pergi jika memang mereka membencinya?


Gadis itu beranjak pergi setelah kereta kuda Silverethia menghilang di balik pepohonan. Dia kembali ke paviliunnya, berniat mengurung diri di sana selama yang dia bisa.


Kini keluarga kecil Jacob dapat bernapas dengan lega. Selama tiga hari mereka harus bersikap baik pada Victoria, agar kakak dari ibu gadis itu tak memiliki alasan untuk memusuhi mereka.


"Bu, apa aku harus menghentikannya?" tanya Loralei.


"Tidak perlu, Sayang. Biarkan saja dia menangisi kepergian paman dan bibinya. Oh ..., Victoria yang malang," balas Izebel berlagak kasihan.


~~~


Galahad sejak tadi berjalan mondar-mandir dengan pikiran melayang. Dia berusaha keras merancang rencana masa depan untuk Victoria. Tahun demi tahun telah berlalu, mereka tak bisa hanya diam dan menunggu Draic mengambil gadis itu.


"Sepertinya kau harus mengajari Putri Victoria bertarung," ucap Galahad pada akhirnya. Setelah membuat keputusan itu, dia lantas berhenti berlalu-lalang.


"Bertarung? Bukankah dia masih terlalu belia untuk menggunakan senjata, Ayah?" tanya Luther merasa keberatan.


"Nak, waktu berlalu begitu cepat. Kita tak bisa terus bersantai sampai masa itu datang," jawab Galahad, berusaha memberi pengertian pada anaknya.


"Tapi, kita bisa membantunya, 'kan, Ayah? Aku akan terus berlatih, setiap hari. Biar aku yang menghadapinya," kata Luther penuh tekad.


"Luther. Ayah senang kau ingin melindungi Putri. Tapi, tidak dengan vampir itu. Dia bukan tandingan kita. Kau bahkan belum pernah bertemu dengan Draic. Bukannya Ayah tidak mau melindungi Putri Victoria, tapi dia harus melakukannya sendiri," jelas Galahad.


"Jika kita bukan tandingannya, bagaimana mungkin Victoria bisa membunuhnya?"


"Kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang, tugas kita membantunya melindungi diri sendiri. Setidaknya kelak dia bisa membela diri di hadapan Jacob dan keluarganya."


Luther merenungi perkataan sang ayah sejenak. Dia selalu memperhatikan Victoria. Selama ada Maveth dan Abigail, Luther merasa damai kala melihat gadis kecil itu sering tertawa bersama paman dan bibinya. Namun, hari ini tawa itu lenyap begitu saja, seolah sang raja dan ratu Silverethia membawa pergi keceriaan Victoria bersama mereka.


"Baiklah, Ayah. Kalau memang itu yang terbaik, aku akan melakukan yang terbaik juga." Luther bangkit dari duduknya. Lalu berdiri tepat di hadapan Galahad.


"Ayah percayakan Putri Victoria padamu. Jadikan dia gadis yang tangguh," ujar Galahad seraya menepuk pelan pundak Luther.


Luther tersenyum. Kakinya mulai melangkah meninggalkan rumah kecil mereka.


"Oh, ya, Nak!" seru Galahad.


Luther berbalik badan, menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya lagi.


"Untuk saat ini, tidak perlu menggunakan senjata dulu. Jika dia sudah siap, baru kau bisa memberinya senjata apa pun itu dan, kau yang tahu kapan dia siap."


Lihat selengkapnya