The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #6

Chapter 5

Sembilan tahun berlalu sangat cepat. Kini Victoria kecil menjelma menjadi gadis cantik dengan tubuh ideal yang diidamkan semua gadis seusianya.


Begitu juga Loralei. Kian hari polesan di wajahnya makin tebal. Tak jarang dia mengurung diri seharian di kamar, hanya untuk bersolek dan mengangumi diri di depan cermin.


"Di mana Victoria?" tanya seorang gadis yang duduk di tepi ranjang Loralei. Dia bernama Adrianne, keponakan Izebel.


"Mungkin di tempat latihan," jawab Loralei tanpa mengalihkan pandangan dari cermin. Tangannya memegang lipstick, perlahan bergerak melintasi bibir.


"Bersama Kak Luther?" tanya Adrianne lagi.


"Ya." Loralei berbalik badan setelah selesai dengan bibirnya. "Bagaimana menurutmu?"


"Warnanya terlalu mencolok," ujar Adrianne berkomentar.


"Memang aku ingin terlihat mencolok. Maka semua mata akan tertuju padaku," sahut Loralei penuh percaya diri.


Adrianne mengembus napas kasar melihat sepupunya itu. Padahal dia baru saja datang ke istana, tapi tidak ada yang menyambutnya, Loralei hanya memikirkan diri sendiri.


"Loralei," panggil Adrianne. "Apa Kak Luther sudah punya kekasih?" tanyanya.


"Aku tidak tahu. Kau tanya saja langsung," jawab Loralei cuek.


Adrianne menjatuhkan tubuh ke ranjang. Pandangannya melayang bersamaan dengan bibir yang tersenyum lebar. "Semakin dewasa, Kak Luther makin tampan, ya. Aku menyukai pria itu. Sangat." Gadis itu membayangkan wajah Luther di pikirannya. Tak lama kemudian, dia duduk kembali. "Apa kau juga menyukainya, Loralei?"


Loralei sontak menoleh pada Adrianne, lalu dia tertawa remeh. "Apa kau serius menanyakan itu? Aku ini seorang putri, Adrianne. Sementara dia hanyalah seorang pelatih prajurit. Kami berbeda kasta," kata Loralei dengan mimik wajah jijik. "Dan, ya. Aku akan menikah dengan seorang raja, ataupun pangeran. Yang pasti berasal dari keluarga bangsawan."


"Terserah, kau ingin menikah dengan siapa. Tapi, kau mau, 'kan, membantuku mendekati Kak Luther? Aku sudah berusaha sendiri setiap kali berkunjung ke sini. Tapi dia sama sekali enggan memandangku. Kalau kau yang bicara padanya, mungkin dia mau menurutimu," pinta Adrianne dengan memelas.


"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi aku tak bisa menjamin ini akan berhasil."


"Sungguh?" tanya Adrianne dengan mata berbinar.


Loralei mengangguk walau sebenarnya dia malas berurusan dengan itu.


~~~


Di arena latihan, Victoria baru saja berhasil menjatuhkan pedang Luther dari genggamannya. Bahkan pemuda itu sampai terduduk jatuh, dengan posisi Victoria menghunuskan pedang di depan hidungnya.


"Aku mengalahkanmu lagi, Kak," ujar Victoria sebelum akhirnya dia tertawa. Sesaat kemudian Victoria menyingkirkan pedangnya dari wajah Luther. Lalu mengulurkan tangan untuk membantu putra Galahad itu bangkit.


Luther menyambut uluran tangan Victoria. Dia kini berdiri sambil menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah arena latihan. "Ya ..., kuakui, kau memang semakin hebat," pujinya.


"Benarkah? Jadi, aku bisa latihan menggunakan senjata lain?" tanya Victoria bersemangat. Menjadi gadis yang tangguh ternyata begitu menyenangkan. Dia tampak berbeda dengan gadis lain yang hanya peduli dengan kemolekan wajah dan tubuh.


Luther meletakkan jari telunjuknya di dagu, pandangannya melayang ke udara. "Hmm, sepertinya kau sudah bisa belajar memanah," kata Luther.


Bola mata Victoria membulat sempurna. Senyumnya mengembang. Memanah adalah hal yang sangat dia nantikan. "Kapan kita bisa mulai, Kak?"


"Besok. Hari ini kau bisa beristirahat. Siapkan tenagamu untuk besok," ujar Luther memutuskan. Lalu, pemuda itu berjalan ke tepi arena, menuangkan secangkir air dan memberikannya pada Victoria.

Lihat selengkapnya