The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #7

Chapter 6

Keesokan harinya, Victoria sudah bersiap-siap sejak langit masih tampak gelap. Dia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya demi tak membuat Luther menunggu.


Gadis itu melangkah menuju ruang persenjataan dengan semangat berkobar. Dia memilih busur dan meraih tas anak panah yang bersandar di dinding, lalu menyampirkan ke bahu. Tali kulitnya melintang di dada, sementara deretan anak panah di dalam bergoyang ringan mengikuti gerak tubuhnya. Setelah memastikan posisi quiver stabil di punggung, dia melangkah maju, siap dengan pelajaran barunya.


Victoria keluar dari gerbang istana setelah penjaga membukakan gerbangnya. Dia berlari kecil ke rumah Luther yang berada tak jauh dari kompleks istana. Baru saja tiba di rumah itu, Victoria langsung disuguhkan pemandangan, Fergus si kanselir, Galahad, dan beberapa orang pengawal istana menunggangi kuda dengan bekal yang cukup banyak.


"Paman Gal, mau ke mana?" tanya Victoria dengan dahi berkerut.


"Selamat pagi, Tuan Putri. Saya akan mengawal Tuan Fergus pergi ke Kerajaan Mosvil. Mungkin akan kembali setelah tiga minggu. Ada urusan antarkerajaan yang harus dia selesaikan," kata Galahad.


Fergus melirik sinis pada Victoria. Dirinya berada di jajaran pengikut setia Jacob yang sudah berbaik hati mengangkatnya sebagai seorang kanselir, tepat setelah Jacob naik takhta.


"Ayo, Gal! Jangan buang-buang waktu lagi," ujar Fergus. Dia segera mengarahkan kuda hitamnya ke jalan.


"Nak, jagalah Putri Victoria dengan baik," ucapnya pada Luther. Lalu, dia beralih pada Victoria. "Tuan Putri, semoga berhasil dengan pelajaran baru Anda."


Victoria mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Paman. Hati-hati di jalan."


Galahad memacu kudanya setelah ketinggalan beberapa meter dari rombongan. Dia sempat berbalik badan dan melambaikan tangan pada dua anak itu.


Setelah Galahad dan rombongannya tak terlihat lagi, Luther mengajak Victoria ke mulut hutan Nemorosa. Di sana, lima target panahan dengan bullseye kuning cerah di tengahnya berdiri berjajar rapi, hasil kerja Luther kemarin sore.


Langkah Victoria melambat saat matanya menyapu kelima sasaran itu. Dia berdiri cukup dekat dengan salah satunya. Mengambil satu anak panah dan bersiap menarik tali busur, tapi sebelum sempat membidik, Luther menahan lengannya dan menarik tubuh gadis itu ke belakang, menjauh sekitar lima meter dari target. "Jarak yang sempurna untuk pemula," ujarnya ringan, dengan sedikit senyum di sudut bibir.


Victoria mengernyit, menatap target dengan ragu. "Tapi ini terlalu jauh, Kak," protesnya.


Luther tertawa pelan, lalu berkata, "Panah memang senjata yang diciptakan untuk menyerang dari jarak jauh. Kalau ingin dari dekat, pakai pedang saja."


Gadis itu menggeleng cepat sesaat setelah membayangkan delapan tahun dia belajar menggunakan pedang.


Victoria kembali bersiap dengan busur dan anak panahnya. Dia menarik kuat tali busur, sebelah matanya ditutup seperti yang dia lihat dalam lukisan-lukisan prajurit. Tapi begitu dilepaskan, anak panah itu malah meleset jauh melewati sisi luar target, bahkan tak menyentuh jerami.


Luther menahan tawanya saat melihat wajah cemberut Victoria. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia berjalan mendekat. Langkahnya nyaris tak bersuara di atas rerumputan. "Jangan tutup matamu. Panahan bukan soal menargetkan, tapi merasakan garis lurus antara kau dan sasaran," katanya lembut.


Victoria menoleh sedikit, tapi sebelum sempat menjawab, Luther sudah berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka hanya beberapa senti saja hingga hangatnya napas Luther terasa di dekat leher Victoria.


Dengan tenang, Luther meraih kedua siku Victoria dari belakang, membenahi sudut lengan dan cara dia memegang busur. Sentuhannya ringan, tapi berhasil membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat.


"Lenganmu terlalu tegang," bisik Luther. "Kalau kau ingin panahmu terbang lurus, kau harus tenang. Seperti air yang mengalir, bukan batu yang memaksakan arah."


Victoria hanya mengangguk kecil, tak yakin apakah dia mendengarkan kata-kata Luther, atau hanya terpaku pada kedekatan mereka. Wajahnya mulai memanas. Dia berusaha mengatur napas, tapi detak jantungnya justru semakin kacau.


"Tarik perlahan. Rasakan titik beratnya," ujar Luther pelan, sementara tangannya tetap di atas tangan Victoria, membimbingnya.


Begitu Victoria melepaskan tali busur, anak panah meluncur dan menancap pada lingkaran merah terluar. Dia membeku, antara tak percaya dan malu.


"Jauh lebih baik," kata Luther dengan nada puas. Dia bertepuk tangan sebagai penambah semangat Victoria.

Lihat selengkapnya