The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #8

Chapter 7

Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kini, Victoria sudah cukup mahir memanah setelah enam bulan berlatih. Mengenai bullseye juga bukan sesuatu yang langka baginya. Bahkan, dia bisa melakukan itu dari jarak dua puluh lima meter, titik yang dulu terasa mustahil untuk dia capai.


Loralei dan Adrianne menyerah di hari kelima, otot-otot mereka nyeri karena tak menjalani latihan dasar terlebih dahulu. Latihan mereka berakhir bersamaan dengan kepulangan Adrianne ke desa. Pastinya tanpa membawa harapan apa pun.


Sore ini, satu lagi anak panah menancap sempurna di lingkaran kuning itu. Victoria memandanginya dengan tatapan puas. Senyuman lebar terbit di bibir merah mudanya.


“Wah, wah, lihat siapa yang sudah bisa berburu rusa," ucap Luther dengan rasa bangga.


Victoria menoleh cepat. “Sungguh?”


Luther mengangguk dengan senyum tipis. “Sudah lama kita tidak makan rusa, 'kan? Hasil buruan sendiri pasti lebih nikmat.”


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo, kita berangkat," ajak Victoria, sudah tak sabar.


Keduanya membereskan peralatan yang akan dibawa, menarik kembali anak panah yang sudah menancap di sasaran. Sore itu juga, mereka memasuki hutan Nemorosa. Pepohonan di sana cukup rapat hingga sinar mentari sulit menembus rindangnya dedaunan.


Victoria dan Luther berjalan hati-hati dengan anak panah yang sudah siap di busurnya. Mereka memperhatikan langkah, waspada akan jebakan yang dipasang pemburu lain. Tatapan mereka fokus, begitu pula dengan pendengarannya.


Beberapa menit terus mencari, suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering pun akhirnya terdengar. Jelas bukan milik mereka. Sesaat kemudian, Victoria melihat seekor rusa muda tengah berjalan-jalan sembari mencari makan. Sesekali menoleh ke sekeliling memperhatikan sekitarnya.


"Kak, ada rusa!" seru Victoria. Ini adalah kali pertamanya berburu. Dia begitu antusias hingga tak bisa menahan suaranya.


Mendengar teriakan Victoria, rusa itu lantas panik. Dia berlari kencang meninggalkan dua orang yang hendak memburunya, menembus semak belukar dan ranting-ranting yang berserakan.


"Bagus sekali," ledek Luther.


Victoria hanya bisa tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maaf, Kak. Aku terlalu senang tadi."


"Ya sudah. Ayo, kita cari yang lain," ajak Luther, tak ingin memperpanjang masalah.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan, semakin dalam masuk ke hutan. Keheningan dan kabut mulai menguasai seiring matahari berangsur tenggelam. Namun, tak ada satu pun hewan yang terlihat di sekitar mereka.


"Kau lelah? Apa kita pulang saja?" tanya Luther. Mereka sudah berjalan selama dua jam. Dia khawatir Victoria akan kehabisan tenaga.


"Jangan dulu, Kak. Setidaknya kita harus membawa pulang hasil buruan. Seekor kelinci pun tidak masalah," kata Victoria.


"Baiklah. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kau lelah, bilang saja. Masih ada hari esok," sahut Luther.


"Iya, Kak."


Tanpa disadari oleh Victoria dan Luther, sepasang mata berwarna merah tengah mengawasi mereka dari jarak yang sangat jauh. Menatap tajam keduanya sambil meremas sekuntum mawar hitam di hadapannya.


Dia berdiri tepat di belakang tanaman mawar hitam yang sudah tumbuh selama hampir dua puluh tahun, yang menjadi pemisah antara wilayah manusia dan bangsa vampir.


"Kau adalah milikku, Victoria," gumamnya dengan suara berat. Tak senang melihat calon istrinya bersama pria lain. Ingin sekali dia memisahkan Luther dan Victoria. Namun, perjanjian tetaplah perjanjian. Dia tak bisa begitu saja melintasi perbatasan dan melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri.


Hari semakin gelap. Suara hewan malam mulai bersahut-sahutan. Rintik air hujan pun mulai terdengar di antara dedaunan. Semakin lama, kian deras.


"Victoria, ayo, kita pulang," ajak Luther. Tak ingin mendengar penolakan lagi, dia langsung memegangi pergelangan tangan Victoria dan menariknya keluar dari hutan.


Keduanya berlari di bawah derasnya hujan. Mentari pun telah tenggelam sempurna, membuat jarak pandang semakin terbatas.


~~~


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah Luther. Tubuh Victoria mulai gemetar, giginya bergemeletuk, tak sanggup lagi melawan dinginnya air hujan dan angin malam.


Luther membuka pintu rumahnya cepat-cepat, lalu menggiring Victoria yang menggigil ke dalam. Dia mendudukkan gadis itu di kursi kayu di ruang tengah, mengambil kain kering dan membalut bahunya yang basah kuyup.


"Di mana Paman Gal?" tanya Victoria.


Lihat selengkapnya