The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #9

Chapter 8

Victoria tersentak kaget ketika ketukan pintu terdengar berulang kali, diiringi dengan suara Galahad yang memanggil-manggil putranya.


Cahaya mentari mulai menembus masuk dari celah jendela kamar Luther. Kicauan burung pun melengkapi hangatnya pagi yang basah itu.


"Kak, bangun." Victoria berbisik sambil menepuk pelan lengan Luther. Pemuda itu tidur dengan memeluknya dari belakang. Membuat Victoria tak bisa bangkit dari ranjang.


"Kak," panggilnya sekali lagi. Namun, Luther malah mempererat pelukannya dan bergumam pelan.


Dengan terpaksa Victoria menggeser kuat tubuhnya dan segera menjauh dari Luther. Dia mulai panik. Khawatir jika Galahad melihat posisi mereka seperti itu.


"Apa yang harus kukatakan pada Paman Gal kalau dia melihatku di sini?" gumamnya sambil merapikan rambut yang berantakan.


Ketukan pintu terdengar makin keras. Dengan perasaan yang sudah tak karuan, Victoria mengguncang-guncangkan tubuh Luther hingga pemuda itu akhirnya bangun.


"Kak, Paman Gal memanggilmu," bisiknya.


Kesadaran Luther belum terkumpul sepenuhnya. Dia duduk, mengucek mata, dan sedikit meregangkan tubuh.


Tanpa diduga, Galahad mendobrak pintu kamar sang anak sebab tak kunjung mendapat jawaban. Hanya dalam sekali dobrak, pintu kayu itu langsung terbuka lebar, membuat Luther dan Victoria tersentak kaget.


Beruntungnya, Victoria memiliki firasat yang bagus. Sebelum Galahad muncul dari balik pintu, dia bergegas merunduk dan masuk ke bawah kolong tempat tidur.


Galahad mengernyitkan dahi melihat ke arah Luther. "Kau sudah bangun? Kenapa tidak menjawab panggilan Ayah?"


Dengan susah payah Luther menelan salivanya. Dia menatap ke luar, menghindari wajah Galahad. "Maaf, Ayah. Aku baru saja bangun."


"Tapi, kau tidak pernah bangun terlalu siang seperti ini. Lihat, matahari sudah naik, dan kau tahu ... Putri Victoria belum kembali ke paviliunnya," ujar Galahad dengan nada cemas.


Victoria yang berada di bawah tempat tidur mendengar semua yang Galahad katakan. Dia menepuk pelan dahinya, merutuki kebodohannya sendiri. "Harusnya saat pertama kali Kak Luther mengajak pulang aku turuti saja," batinnya menyesali.


"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan mencarinya," ujar Luther dengan senyum terpaksa. Dia turun dari tempat tidur seraya menuntun sang ayah keluar dari kamar. "Ayah sudah sarapan? Kalau belum, biar aku buatkan," tawarnya.


Luther kembali ke kamar dan menghampiri Victoria. "Apa kau mau keluar dari jendela?" tanyanya.


Victoria berpikir sejenak, tak lama dia mengangguk. Gadis itu keluar dari tempat persembunyian, mengikuti langkah Luther.


Cepat-cepat Luther membuka jendela kamarnya. Lalu, membantu Victoria keluar. "Maafkan aku, Victoria. Hanya ini cara yang aman. Aku harap kau bisa mencari alasan yang masuk akal jika ada yang bertanya," ujar Luther dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa, Kak," jawab Victoria setelah dia berada di luar rumah. "Kalau begitu aku pulang dulu."


"Luther! Katamu ingin membuatkan sarapan!" teriak Galahad dari ruangan lain.


"Sebentar, Ayah!" sahut Luther. Dia memandangi punggung Victoria yang perlahan menjauh. Senyumnya mendadak mengembang saat mengingat kembali momen tadi malam. Kenangan indah yang tak akan pernah dia lupakan.


~~~


"Aku melihatnya bersama seorang pemuda, mirip teman Balthazar. Aku rasa itu anaknya," ucap Draic tiba-tiba.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Lilith tak paham.


"Tentu saja, Victoria. Aku bisa merasakan tatapan pemuda itu, sepertinya dia tertarik pada calon istriku," jawab Draic dengan menahan kekesalannya.


Lilith memicingkan mata dan menatap tajam Draic. "Ya, dia memang calon istrimu. Tapi, harus kau ingat, itu hanyalah bagian dari ritual. Tidak akan ada cinta dalam pernikahan kalian, dan jangan sampai kau melanggar aturan darah Sanguinaris."

Lihat selengkapnya