The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #10

Chapter 9

Luther berbaring di ranjangnya, memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang, kembali teringat pada Victoria yang akan meninggalkan Velendria dua bulan mendatang.


Sejenak kemudian, pemuda itu duduk. Matanya menatap lurus ke arah lemari. Dia bangkit, berjalan menuju lemari kayu tersebut. Membukanya perlahan hingga suara derikan terdengar dari engsel pintunya.


Tangan Luther mengulur. Meraba ke tumpukan pakaian yang sudah dilipat rapi. Tak lama, dia berhenti, lalu menarik tangannya kembali.


Sebuah pisau belati berbahan perak murni—kesayangannya—sudah berada dalam genggaman. Luther meneliti belati tersebut dalam penerangan minim. Sejenak, bayangan masa lalu kembali hadir di ingatannya.


Saat itu, Luther berusia sepuluh tahun ketika sang ibu berjuang melawan sakit keras yang dideritanya. Dia mengidap penyakit tuberkulosis yang sudah empat tahun menggerogoti tubuhnya.


Ibu Luther adalah seorang wanita yang cantik sebelum penyakit itu menyerangnya. Tubuh yang berisi dan ideal, kini hanya tinggal tulang belulang yang diselimuti daging. Pipinya tampak cekung, matanya terlihat lebih besar dari yang seharusnya.


Setiap tarikan napas adalah perjuangan yang luar biasa hebat. Batuk yang awalnya kering, kini bercampur dengan darah kental. Bahkan, setiap malam Galahad harus mengganti seprai yang basah karena keringat sang istri.


Dia menghabiskan hari-hari terakhirnya terbaring lemah di atas ranjang. Tak ada satu hal pun yang bisa dia lakukan untuk membantu dirinya sendiri. Hanya sang suami dan putra tunggalnya lah yang bisa dia harapkan. Beruntung Luther adalah anak yang baik. Dia tak pernah mengeluh atau merasa malas jika ibunya meminta tolong sesuatu.


"Sayang." Dia memanggil Luther dengan bisikan. Bahkan suaranya pun telah meninggalkannya.


"Ya, Bu." Luther mendekat. Duduk di sisinya sambil menggenggam erat tangan sang ibu.


Ibunya tersenyum. Walau wajah itu kini tampak mengerikan, tapi bagi Luther, dialah wanita tercantik di dunia. "Maafkan Ibu, mungkin Ibu tak bisa menemanimu lebih lama lagi." Dia menjeda kalimatnya dengan tawa kecil. "Tapi sepertinya kaulah yang selama ini menemani Ibu. Kau masih kecil, tapi sudah banyak tanggung jawab yang harus kau pikul. Ibu tidak bisa meringankan bebanmu, Sayang. Tapi, Ibu selalu berharap kau akan menjadi laki-laki kuat dan tangguh seperti ayahmu."


Luther diam, menyimak dengan baik setiap kata yang keluar dari bibir kering ibunya. Sekuat mungkin dia menahan air matanya agar tidak lolos. Ingin memperlihatkan pada sang ibu bahwa dirinya memanglah anak laki-laki yang kuat. Namun, akhirnya Luther sadar, dia hanyalah manusia biasa yang bisa bersedih, menangis, jika orang terkasih menderita seperti itu. Isakannya terdengar memenuhi kamar yang semulanya hening. Dia menggenggam tangan ibunya semakin erat.


Ibu Luther menggerakkan tangan lemah, dia hendak meraih laci nakas yang berada di sebelahnya.


Naluri Luther membawanya ke nakas tersebut. Dia membukakan laci, lalu menoleh pada sang ibu.


"Ambil belati itu, Nak," titahnya.


Luther menuruti. Dia menyerahkan belati itu pada ibunya. Namun, sang ibu malah mendorong kembali belati tersebut ke tangan Luther. "Simpanlah. Anggap kenang-kenangan dari Ibu. Benda ini murni terbuat dari perak. Kau bisa menggunakannya untuk melindungi dirimu dan Putri Victoria."


Luther mengangguk paham. Dia memasang kembali sarung belati tersebut. "Maafkan aku, tak bisa melakukan yang terbaik untukmu, Bu." Luther kembali menangis tersedu. Dia ingin mendoakan ibunya berumur panjang. Tetapi, dia tak ingin ibunya terus hidup hanya untuk menderita.


"Kau sudah melakukan yang terbaik, bahkan lebih dari yang kau bisa. Ibu bangga padamu, Nak."


Luther tak pernah beranjak dari ranjang ibunya sejak saat itu hingga keesokan harinya. Hari di mana sang ibu ditemukan tanpa nyawa. Saat fajar merekah, tarikan napas sang ibu terdengar semakin pelan, semakin jarang, hingga akhirnya berhenti total.


Anak itu hanya bisa berdiri di ambang pintu ketika orang-orang mulai membungkus jenazah ibunya dengan kain putih. Tatapannya kosong, seolah dunianya berhenti berputar.


Di tangannya masih ada belati semalam. Dia menggenggam erat, bertekad untuk memanfaatkan pemberian ibunya itu sebaik mungkin.


Sekarang di sinilah dia. Lamunannya membuyar ketika secara tak sengaja ujung belati itu menusuk jari telunjuknya.


Luther meringis pelan. Lalu, dia mengisap darah yang keluar dari ujung jari. Sejenak dia terdiam, kemudian menjauhkan jarinya dari mulut. Pemuda itu tersenyum sinis. "Apa yang kau lakukan, Luther? Kau bukanlah makhluk itu," ucapnya pada diri sendiri.

Lihat selengkapnya