The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #11

Chapter 10

Malam itu, Jacob membawa Galahad ke aula singgasana guna membicarakan pernikahan anak-anak mereka. Tak lupa, dia memanggil seorang astrolog agung, sosok yang senantiasa dipercaya kerajaan dalam menentukan hari baik dengan membaca rasi bintang.


"Apa maksudnya ini?" tanya Galahad tak mengerti. Mereka sudah duduk bersama, tapi Jacob belum juga membuka suara.


Sang raja berdehem membersihkan tenggorokannya. Dia membetulkan posisi duduk, lalu menatap datar Galahad. "Putriku ingin menikah dengan putramu. Jadi, kita akan mencari tanggal yang tepat untuk pernikahan mereka," jelas Jacob.


Tentu saja hal itu membuat Galahad terkesiap. Dia reflek bangkit dari duduknya. "Bagaimana kau bisa seenaknya menentukan ini? Kau bahkan belum bertanya pada Luther! Aku yakin, dia tidak akan mau menikah dengan Loralei," bantahnya.


Jacob melirik Galahad tak senang. "Kau tahu? Aku pun sebenarnya tak sudi menjadikan putramu sebagai menantuku. Tapi, Loralei memaksa, aku tidak bisa menolak keinginannya!"


Tawa sinis keluar dari mulut Galahad. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Oh, jadi lagi-lagi karena kau sangat lemah terhadap putrimu? Sungguh, kau, pria malang," ejeknya.


"Jaga bicaramu, Galahad! Kau bukan siapa-siapa di sini! Sudah untung derajat anakmu akan kuangkat!" berang Jacob. Pria itu ikut berdiri seraya menunjuk Galahad dengan wajah merah padam.


"Aku tidak peduli dengan status apa pun itu. Kami tidak membutuhkannya, dan yang jelas, Luther tak akan setuju menikahi putrimu karena dia mencintai Putri Victoria," balas Galahad. Dia mulai mengambil langkah, pergi dari hadapan Jacob. Astrolog Agung hanya bisa diam tanpa berani mencampuri urusan mereka.


"Jadi, bagaimana, Yang Mulia?" tanya si astrolog.


"Kembalilah," jawab Jacob.


Meskipun bingung, dia tetap mengikuti perintah rajanya. Baru saja tiba, kini sudah harus pulang lagi ke desa.


~~~


Keesokan hari, tatkala bangun tidur, Loralei mendengar penolakan yang dilontarkan Galahad semalam. Izebel jadi begitu khawatir anaknya akan kembali menggila. Namun, kekhawatirannya sama sekali tak berarti apa-apa. Gadis itu hanya duduk diam dan tenang di ranjangnya.


"Aku akan membuatmu tak bisa menolak. Kau harus kudapatkan, apa pun caranya," batin Loralei. Tekadnya sudah bulat dan rencana yang disusunnya sendiri telah matang.


Para pelayan yang bertugas membantunya merapikan diri sudah tiba. Jantung mereka berdetak kencang setiap kali berhadapan dengan Loralei. Saat suasana hati gadis itu sedang baik saja, mereka selalu dibentak apabila melakukan kesalahan kecil. Saat ini ketiga orang pelayan tersebut terus berdoa agar tak mendapat masalah apa pun.


Loralei duduk di depan meja rias barunya dengan tatapan datar. Ruangan itu kini terasa kedap udara bagi para pelayan. Mereka mempercepat gerakan agar bisa pergi dari sana lebih awal.


~~~


Selesai berias, Loralei keluar dari istana tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. Dia menaiki kereta kuda dan memerintahkan kusir membawanya ke desa.


"Aku ingin menemui Dokter Huxley," ucapnya datar.


"Baik, Tuan Putri." Si kusir dengan sigap membawa kendaraannya ke tempat yang Loralei tuju. Kuda-kuda itu berjalan cepat meninggalkan kompleks istana Velendria.


Setibanya di desa tempat Dokter Huxley tinggal, Loralei menatap ke luar jendela. Melihatnya ada di sana, rakyat Velendria yang sudah sibuk dengan pekerjaan mereka, lantas tertegun menyadari sang putri ada di desa mereka. Tak biasanya gadis itu mau mengunjungi tempat yang menurutnya kumuh itu, dan kali ini, apa tujuannya?


Para gadis pun menatap iri padanya. Berharap mendapat kesempatan untuk menjadi seorang putri barang sehari saja.


"Putri Loralei cantik sekali, ya," ujar seorang gadis dengan tatapan kagum.


"Iya. Tapi menurutku, Putri Victoria jauh lebih cantik dan ramah daripada dia," timpal gadis lain. "Lihat saja caranya menatap kita. Seperti orang yang sedang memandangi kotoran," tambahnya.


"Itu benar. Padahal yang aku dengar, Ratu Izebel juga berasal dari kalangan rakyat biasa seperti kita," sambut yang lain.

Lihat selengkapnya