"Cukup bagus," ucap Luther sambil menilik dua jarum besar di tangannya. Dia melebur belati peraknya hingga terciptalah benda itu. Berharap bisa membantu Victoria menyembunyikan senjata ketika hari di mana Draic mengambilnya telah tiba.
"Hanya tinggal diberi lapisan pelindung saja," gumamnya dengan wajah puas.
Kemudian, Luther pergi ke sungai. Dengan berbekal golok, dia memasuki hutan bambu yang letaknya tak jauh dari sungai. Bambu-bambu itu tumbuh tinggi dan subur. Embusan angin membuat mereka bergoyang dan saling bertabrakan hingga tercipta nyanyian alam yang menenangkan.
Hari semakin sore. Namun, tak meredupkan semangatnya mencari bambu kecil untuk dijadikan lapisan yang bisa menyembunyikan jarum perak buatannya.
Satu per satu, dengan langkah lambat, Luther menyisir hutan bambu tersebut, hingga dia menemukan yang dicarinya.
Pemuda itu berjalan cepat dengan ekspresi penuh semangat. Dia mengeluarkan goloknya, lalu mulai menebas sebuah bambu panjang berujung kecil. Bisa dipastikan jarumnya muat di dalam bambu tersebut.
Setelah mendapat dua batang bambu dengan ukuran nyaris serupa, Luther keluar dari sana dengan hanya membawa bagian ujung bambunya saja.
Ketika dia sampai di rumah, mentari mulai menarik kembali cahayanya. Rasa lelah menggelayuti tubuh Luther. Dia menyimpan semua peralatannya. Berniat untuk melanjutkan pekerjaan esok hari.
Baru saja hendak berbaring, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah, diiringi teriakan dari pengawal istana yang memanggilnya.
Luther berdecak sebal sambil menurunkan kaki dari ranjang. Dia berjalan malas menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Luther dengan nada tak senang.
"Tuan Putri memanggilmu," jawab si pengawal istana.
Dahi Luther berkerut tipis. "Putri Victoria?"
"Bukan. Tuan Putri Loralei yang memanggilmu. Katanya dia sedang membutuhkanmu."
Luther mengembus napas kasar. Jelas dia tak suka berurusan dengan keluarga Jacob. Tetapi, dia tetap harus menuruti perintah mereka. "Baiklah. Aku akan datang. Di mana dia?"
"Ada di kamarnya," jawab si pengawal. Lalu dia beranjak pergi setelah memastikan pesan yang dibawanya tersampaikan dengan baik.
Luther kembali mengenakan sepatu botnya. Saat itu juga, dia menuju istana utama. Sepanjang jalan, tak ada sedikit pun rasa curiga di benaknya. Bahkan, saat melihat paviliun Victoria dari kejauhan, dia tersenyum. "Aku akan mampir setelah ini," gumamnya.
Luther memasuki istana tanpa ada yang menghentikannya. Dia tak bertemu dengan Jacob maupun Izebel. Langkah kakinya semakin melebar. Dalam hati berpikir, semakin cepat dia sampai, semakin cepat dia akan pergi dari sana.
Di dalam kamarnya, Loralei sudah menyiapkan dua cangkir teh hangat di atas meja. Kemudian, dia mengeluarkan botol ramuan dari Dokter Huxley dan memasukkan lima tetes cairan ke dalam salah satu teh tersebut. Dia berpikir sejenak, lalu bergumam, "Sepertinya aku juga butuh." Dia kembali meneteskan cairan itu ke teh yang lain.
Malam ini, Loralei memakai gaun malam yang sangat indah. Berwarna putih bersih dan berbahan tipis. Bahkan lekukan tubuhnya terlihat jelas walau hanya sekilas terpandang.
Tak lupa dia menyemprotkan parfum ke area leher dan pergelangan tangan. Wajahnya sudah dirias sedemikian rupa. Rambutnya digerai dan disisir dengan baik. Pria mana saja yang melihatnya, pasti tak akan bisa menolak pesona gadis itu.
Beberapa saat kemudian, ketukan terdengar dari luar pintu kamarnya. Loralei menyunggingkan senyuman miring di depan cermin. Dengan langkah anggun, dia menuju pintu. Yakin bahwa yang datang adalah pria pujaan hatinya.
Loralei membuka pintu sedikit. Dia hanya melongokkan kepalanya keluar, sosok Luther berdiri di sana dengan penampilan yang masih berantakan. Dia belum mandi setelah pulang dari mencari bambu. Namun, dia tak peduli dengan penampilannya jika bukan di hadapan Victoria.
"Anda memanggil saya?" tanya Luther.
"Ya. Masuklah," ajak Loralei dengan suara yang mendayu.