Galahad berjalan tergesa-gesa menuju istana. Setelah mendengar kabar yang menyeret putranya ke dalam masalah serius, dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Para prajurit yang tengah berbaris rapi memandang bingung ke arah pria yang tadinya mengatur mereka itu.
Sepanjang jalan Galahad dilanda kecemasan. Dia mengutuk kebodohannya sendiri, sebab memilih untuk tak bicara apa-apa mengenai pernikahan yang sebelumnya akan diatur untuk Luther dan Loralei. Jika putranya itu tahu, setidaknya dia bisa lebih menjaga jarak dengan gadis itu.
Setibanya di istana, dia mendapati sang anak sedang menghadap Jacob di aula singgasana. Luther bersimpuh di tengah aula. Kepalanya menunduk, kedua tangannya saling menggenggam.
Semua orang yang ada di sana sontak menoleh ke arah pintu ketika Galahad masuk. Pria itu langsung berlari dan berjongkok di sebelah putranya.
"Ayah?"
"Nak, apa semua itu benar?" tanya Galahad memastikan.
Luther tak tahu harus menjawab apa. Dia lebih memilih menghindari tatapan Galahad dan menundukkan kembali kepalanya.
Melihat respons sang anak, Galahad membuang napas berat. Bahunya meluruh. Dia paham, dengan diamnya Luther sudah menjawab segala keraguannya.
"Sudah kuputuskan," ucap Jacob dengan lantang dari singgasananya, "pernikahan kalian akan segera dilaksanakan. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu." Suara Jacob terdengar berat. Seolah yang baru saja dia sampaikan bukanlah keinginannya sendiri.
Luther mengangkat kepalanya. Dia mengedarkan pandangan, memperhatikan semua orang dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Dia sadar, bukan hanya dirinya saja yang terluka atas perbuatannya, tapi Victoria juga, bahkan sang ayah.
Di sisi lain, Loralei tersenyum penuh kemenangan. Sekali lagi dia berhasil merebut apa yang seharusnya menjadi milik Victoria. Ada kepuasan tersendiri yang dia rasakan ketika melihat sepupunya itu menangis.
~~~
Victoria kembali mengurung diri di kamar. Kedua matanya sudah membengkak dan hidungnya memerah. Sudah berjam-jam lamanya dia menangisi Luther. Kadang berhenti sebentar, lalu menangis ketika teringat lagi.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu, Kak?" Dia bertanya pada Luther yang kini entah berada di mana.
Kabar pernikahan Luther telah sampai di telinganya. Dua minggu lagi. Dua minggu lagi mereka akan menikah. Kini para pelayan tengah sibuk mendekorasi istana, sebab Loralei ingin pesta yang mewah.
Untuk pertama kalinya, Victoria benar-benar merasa sendirian. Dahulu, masih ada Luther dan Galahad yang menjadi pelindung serta tempatnya bergantung. Kini, dua orang itu seakan dipaksa masuk ke pihak musuhnya. Entah pada siapa lagi gadis itu akan mengadu nantinya.
Suara ketukan terdengar dari arah pintu. Victoria ingin mengabaikannya. Namun, panggilan dari Loralei memaksanya untuk membukakan pintu.
Putri Jacob itu mengulas senyum lebar ketika sudah berhadapan dengan Victoria. Dia tampak tak merasa bersalah sama sekali. Bahkan saat melihat mata Victoria yang sembap, dia seolah tak tahu apa-apa. "Kau habis menangis? Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Loralei.
Victoria memaksa bibirnya tersenyum sambil mengalihkan pandangannya. "Aku ...."
"Kau tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Lagi pula Kak Luther akan bertanggung jawab dengan menikahiku. Bukankah dua minggu lagi adalah waktu yang singkat? Aku khawatir jika terlalu lama, perutku akan segera membesar," kata Loralei penuh percaya diri. Dia baru melakukannya semalam, tapi sudah berbicara tentang kehamilan.
"Baguslah kalau begitu," sahut Victoria.
"Oh, ya. Ini," ucap Loralei sambil menyodorkan gaun berwarna biru muda. "Pakailah ini di hari pernikahanku nanti. Aku memilihmu menjadi pengiringku, Adrianne juga. Aku ingin kalian, para sepupuku, yang mengantarkan aku menuju calon suamiku."
Victoria tersenyum getir. Dia menerima gaun itu sambil berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh lagi. Dirinya pernah membayangkan akan menjadi pengantin Luther suatu hari nanti. Sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa takdirnya hanyalah menjadi pengiring pengantin Luther.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Aku harus melakukan perawatan rutin agar di hari pernikahan nanti Kak Luther akan terpana melihatku," ujar Loralei seraya berlalu pergi.