The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #14

Chapter 13

Ketika Loralei, Victoria, dan Adrianne menuruni tangga, semua mata tertuju pada mereka bertiga. Si pengantin berjalan di tengah, dengan balutan gaun putih bersih serta buket mawar putih di tangannya.


Victoria dan Adrianne berada di kanan dan kiri Loralei. Mereka mengenakan gaun berwarna senada, hanya saja berbeda modelnya. Ekspresi dua gadis itu sangat berbeda dari Loralei yang terus tersenyum lebar. Adrianne tampak memberengut kesal. Sementara Victoria hanya menampilkan raut wajah datar.


Dengan anggun ketiganya berjalan di atas karpet yang sudah ditaburi ribuan kelopak mawar putih. Suasana begitu hening. Tak ada suara yang berbisikan. Orang-orang itu hanya memuji kecantikan si pengantin dalam hati.


Seharusnya pernikahan adalah sesuatu yang membahagiakan bagi kedua belah pihak. Namun, itu tak dirasakan oleh Luther. Matanya mengikuti pergerakan tiga gadis itu. Hanya saja, dirinya fokus pada Victoria. Dia dapat membayangkan, bagaimana hancurnya perasaan putri mendiang Balthazar itu menyaksikan pernikahannya dengan gadis lain. "Seandainya waktu bisa diulang kembali. Aku akan pergi membawamu jauh dari sini," batin Luther, menyesal.


Loralei dan para sepupunya tiba di altar. Adrianne dan Victoria mundur sedikit. Menciptakan jarak dengan pengantin agar upacara pernikahan bisa segera berlangsung.


"Kalian bisa berpegangan sekarang," kata Pendeta dengan suara seraknya. Pria itu sudah cukup tua. Rambut di kepalanya memutih sempurna, dan kulit di tubuhnya dipenuhi keriput.


Kedua tangan Loralei mengulur semangat. Luther menyambutnya dengan enggan. Dia kembali merasa jijik dengan dirinya sendiri setelah menyentuh tangan gadis itu.


“Hari ini, di hadapan takhta kerajaan dan seluruh saksi yang berkumpul, kita memuliakan ikatan dua jiwa yang memilih berjalan bersama dalam satu jalan hidup. Wahai Luther, engkau datang membawa sumpah kesetiaan dan janji perlindungan. Apakah engkau bersedia menerima Putri Loralei sebagai pendamping hatimu, untuk mengasihinya dengan setulus jiwa, mengangkatnya ketika dia jatuh, dan merayakan bersamanya setiap berkah yang dianugerahkan dunia?”


Luther tak langsung menjawab. Loralei mendongak menatap wajahnya. Dia mengikuti ke mana arah mata Luther memandang. Seketika gadis itu merasa geram ketika calon suaminya malah fokus menatap lekat Victoria yang tengah menundukkan kepala, dan bukannya memperhatikan ucapan pendeta.


"Kak," bisik Loralei menegurnya.


Luther lantas tersadar dari lamunannya. Dia gelagapan. Bingung dengan apa yang harus dikatakannya.


"Jawab pertanyaan Pendeta," bisik Loralei lagi.


“Aku bersedia," kata Luther. Hanya mengikuti yang biasa dia lihat ketika ada upacara pernikahan.


Pendeta kini beralih pada Loralei. “Dan engkau, Putri Loralei, yang berdiri di sini dengan mahkota bangsamu dan cahaya kebajikan di wajahmu, apakah engkau bersedia menerima Luther sebagai pendamping hidupmu, untuk menjaganya, menguatkannya dalam kesulitan, dan merawat cintamu sebagaimana merawat taman bunga yang paling indah?”


Loralei menjawab cepat, “Aku bersedia, selamanya.”


"Dalam setiap zaman, cincin menjadi lingkar abadi yang melambangkan kasih tanpa ujung dan janji yang tak terputus oleh waktu. Wahai Luther ambillah cincin ini, dan kenakan pada jari Putri Loralei sebagai lambang sumpahmu."


Seorang pelayan khusus mendekat dengan membawa nampan kecil berisi sepasang cincin emas yang berkilauan. Luther mengambil cincin wanita, lalu menyematkannya pada jari manis Loralei.


"Ucapkan sumpahmu," ujar Pendeta, sebab Luther hanya diam setelah memasangkan cincin Loralei.


“Dengan cincin ini, aku mengikat hatiku padamu. Aku berjanji akan setia, melindungi, dan mengasihi, sepanjang hari-hari kita dianugerahi dunia.”


“Dan kini, Putri Loralei, ambillah cincin ini, dan kenakan pada jari Luther sebagai tanda kesetiaanmu.”


Loralei mengambil satu cincin yang tersisa di atas nampan. Memasukkan jari manis Luther ke dalamnya. "Dengan cincin ini, aku menaruh seluruh cintaku padamu. Aku berjanji akan bersamamu dalam cahaya maupun dalam kegelapan, menautkan hidupku pada hidupmu untuk selamanya.”


“Maka dengan cincin yang melingkar ini, biarlah cinta kalian terjalin tanpa akhir, sebagaimana lingkarannya tak pernah putus.

Semoga kasih kalian menjadi lentera bagi kerajaan ini, dan bagi anak-anak yang kelak lahir dari cinta kalian.”

Lihat selengkapnya