The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #15

Chapter 14

Dari kejauhan, Izebel menatap tak suka pada Victoria yang kini sedang berdansa dengan Pangeran Caiden. Dia melirik ke sebelahnya, di mana Jacob berdiri. "Harusnya pangeran Mosvil itu yang menjadi menantu kita," gerutunya.


"Entahlah. Raja Wymond juga tampaknya ragu menikahkan anaknya dengan putri kita," sahut Jacob.


Tak hanya meminta restu mengangkat Loralei menjadi putri mahkota, Jacob pun sempat meminta Fergus untuk menyampaikan niatnya menjodohkan Caiden dan Loralei. Namun, Wymond si raja Mosvil tak langsung menyetujui, dan tak pula menolak. Rencana perjodohan itu berakhir ketika kabar pernikahan Loralei dan Luther sampai kepada mereka.


Sama halnya dengan Izebel, Luther pun kini tengah menahan rasa kesal bercampur cemburu ketika mendapati Pangeran Caiden menyentuh pinggul gadis yang dicintainya itu. Gigi Luther bergemeretak seiring dadanya yang naik-turun. Andai saja dia tidak terikat dengan Loralei saat ini, pasti sudah dihajarnya Pangeran Caiden habis-habisan, dan seandainya hari pernikahan ini tak pernah terjadi, maka Caiden tak perlu jauh-jauh datang dari Mosvil dan berujung bertemu dengan Victoria.


Luther memaki dirinya sendiri dalam hati. Yang bisa dia lakukan kini hanyalah berandai-andai. Hari ini adalah hari yang paling buruk setelah kematian sang ibu.


~~~


Pesta masih terus berlanjut hingga tiga hari ke depan. Masih ada beberapa tamu kerajaan yang belum bisa hadir di hari pertama. Sementara yang sudah datang, ada yang langsung berpamitan pulang, ada pula yang memilih menetap sampai pesta benar-benar berakhir.


"Sepertinya Pangeran Caiden menyukaimu," celetuk Adrianne ketika dirinya dan Victoria beristirahat setelah seharian lelah dengan pesta pernikahan Loralei.


Victoria tak terlalu memikirkan perkataan gadis itu, hatinya masih diselubungi rasa sakit karena percintaan. Dia belum mau kembali membuka hati untuk orang baru.


"Oh, ya." Adrianne mengulurkan sebelah tangannya. "Aku minta maaf ..., oh, maksudku, saya minta maaf untuk sikap menyebalkan yang selama ini saya lakukan. Tak sepantasnya saya ikut-ikutan memusuhi Anda, Tuan Putri."


Victoria terdiam dan menatap heran tangan Adrianne. Dia setengah tak percaya sepupu Loralei itu mengucapkan permintaan maaf padanya. Dengan ragu-ragu, Victoria membalas uluran tangan Adrianne. Dia berpikir, tak ada yang perlu dicurigai dari sikap baik gadis itu saat ini.


~~~


Malam pertama pernikahan sudah hampir habis. Namun, Luther tak kunjung masuk ke kamar Loralei. Dirinya memilih menjauh dari keramaian dan mencari tempat gelap. Dengan seteko arak dan cawan kecil di tangan, dia berjalan menuju sungai. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Luther sudah mengantuk sebenarnya, tapi ranjang empuk pun kini tak akan bisa membuat tidurnya nyenyak.


Entah sudah berapa cawan arak yang dia habiskan. Meskipun air itu terasa sakit di tenggorokannya, Luther sama sekali tak peduli. Ingin rasanya dia mati saja ketika mentari terbit, agar tak perlu melanjutkan kehidupan yang mulai tidak berpihak padanya.


"Aku sangat mencintaimu, Victoria. Sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku," kata Luther dengan suara parau. Riakan air sungai yang menabrak bebatuan menyamarkan suara pria itu.


Di sisi lain, Loralei baru saja terbangun dari tidur. Dia duduk di ranjang yang sudah ditaburi ratusan kelopak mawar di atasnya. Beberapa kali matanya mengerjap, mencoba fokus memandang ke sebelahnya, berharap sang suami ada di sana. Namun, sama sekali tak ada tanda-tanda Luther berbaring di ranjang. Kelopak-kelopak mawar itu masih terlihat rapi, seakan belum tersentuh sedikit pun.


Sesak menghampiri dadanya, rasa memiliki kini menyiksa Loralei. Sebagai istri tentu saja dia marah jika suaminya masih mencintai perempuan lain, tapi itu sudah menjadi risiko yang harus dia tanggung, dan dia tahu betul itu.


Dengan langkah cepat, Loralei keluar dari kamar. Tujuannya hanya satu, paviliun Victoria. Pikirannya sudah tak menentu dengan membayangkan yang tidak-tidak tentang suami dan sepupunya. "Awas saja jika sampai kutemukan suamiku di kamarmu. Aku tidak akan pernah mengampunimu."

Lihat selengkapnya