The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #16

Chapter 15

"Masuk!"


Berselang dua hari setelah berakhirnya pesta pernikahan Loralei dan Luther, akhirnya Izebel kembali menyeret Victoria ke ruang bawah tanah. Sang ratu begitu murka tatkala mengetahui putrinya hampir terluka karena ulah gadis itu.


"Berani-beraninya kau mencoba mencelakai calon penerus takhta kerajaan ini!" hardiknya.


Victoria lantas bangkit setelah tubuhnya dihempaskan oleh Izebel. Tanpa rasa takut lagi, dia membalas tatapan tajam bibinya itu. "Aku menyesal," kata Victoria, "aku menyesal karena tak langsung membunuhnya. Harusnya kubidik saja mulut putrimu yang kurang ajar itu!"


Satu tamparan keras segera saja mendarat di pipi mulus Victoria. "Bukannya meminta maaf, kau malah ingin menambah hukumanmu. Baiklah. Tadinya aku hanya akan mengurungmu selama satu minggu. Tapi sekarang, kau akan menghabiskan sisa waktumu di Velendria, di dalam ruangan ini. Setelah itu, kami akan langsung menyerahkanmu pada Draicelus agar dia bisa membunuhmu!" ucap Izebel berapi-api.


"Terserah saja. Lakukan apa pun yang kalian mau. Aku tidak peduli."


Tidak ada apa pun dan siapa pun yang membuatnya harus tetap bertahan hidup. Victoria sudah menyerah dengan kehidupan ini, kehidupan yang tak pernah benar-benar baik padanya.


"Tak ada lagi makanan enak, kasur empuk, selimut yang hangat, dan teman bicara untukmu," ujar Izebel sambil melemparkan sebuah bantal tipis ke arah Victoria. Setelahnya, dia menutup pintu jeruji besi itu dengan keras hingga Victoria terlonjak kaget.


Izebel mencabut kunci dari gemboknya. Kemudian menatap Victoria sekali lagi. "Jangan harap bisa kabur dari sini. Hanya aku yang bisa membebaskanmu!"


Izebel memerintahkan kepada para prajurit untuk membawa semua obor keluar dari ruang bawah tanah. Dia hanya menyisakan dua batang lilin dengan panjang sejengkal tangan Victoria dan sekotak korek api. Tak hanya penerangan dan kehangatan. Izebel juga tak menyisakan seorang pun prajurit di sana agar Victoria benar-benar berada dalam kesendirian dan kekosongan.


Seperginya sang ratu, Victoria duduk meringkuk di sudut ruangan dalam kegelapan. Kedua matanya terbuka lebar, tetapi dia bagaikan seorang yang buta. Tak ada suara yang menyapa selain gesekan antara pakaiannya dengan lantai dan dinding. Udara malam yang lembap mulai menusuk kulit. Victoria lantas meraba ke sekitar demi mencari lilinnya.


Tak butuh waktu lama, wajahnya diterangi cahaya merah lembut. Bergoyang sedikit seiring napasnya berembus. Dia menunggingkan lilin itu beberapa saat. Setelah tetesan demi tetesan menggenang di lantai, Victoria menegakkan lilinnya di atas cairan tersebut.


Dia duduk sambil memeluk lutut dan memandangi lilin kecil tersebut. Perlahan-lahan, matanya mulai memejam dan tubuhnya jatuh tersandar di dinding dingin itu. Victoria terlihat damai dalam lelapnya, seolah tengah berada di tempat yang aman di alam mimpi.


~~~


Suara langkah yang berjalan cepat terdengar di telinga Loralei. Tak lama kemudian, sang suami memasuki kamar dan menghampiri dirinya. Wajah Luther terlihat tak bersahabat. Dia menghunuskan tatapan tajam kepada istrinya yang sedang menghapus riasan wajah di depan cermin.


"Apa yang terjadi? Kenapa ibumu mengurung Victoria di ruang bawah tanah?" tanyanya tak sabar.


Loralei menoleh dan mendongak ke arah Luther, kemudian beralih lagi menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia sudah berbuat kurang ajar padaku," jawabnya acuh tak acuh.


"Memangnya apa yang dia lakukan?"


"Dia mencoba mencelakaiku dengan anak panah."


Luther meneliti tubuh Loralei dengan saksama dan bertanya, "Apa kau terluka?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Loralei tersenyum manis dan berdiri menghadap Luther. "Tenanglah, suamiku. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit syok saat Victoria memanah mahkotaku yang berharga. Tapi, tidak apa-apa, yang terpenting sekarang, aku masih sehat dan dia mendapat hukuman dari tindakannya."


Lihat selengkapnya