"Habiskan makananmu, jangan sampai Izebel tahu apa yang kau makan."
Setelah itu, Jacob pergi dengan tergesa-gesa. Tak ada yang tahu kalau tangannya mengusap cairan bening yang menetes begitu saja di wajahnya.
Hari pertama Victoria dikurung, sesuatu menuntun kaki Jacob ke gudang penyimpanan, di mana lukisan Balthazar terpajang di dinding penuh debu itu. Matanya seolah terhipnotis untuk terus memandangi wajah sang sepupu. Jacob merasa raut wajah Balthazar berubah-ubah. Semulanya datar, marah, kecewa, lalu sedih. Selama beberapa hari, semua itu mengganggu pikirannya hingga yakin melakukan apa yang baru saja dilakukannya.
~~~
Berselang satu tahun sepeninggal Balthazar, Galahad berbicara empat mata dengan Jacob. Dia berpikir kalau Velendria membutuhkan seorang pemimpin. Tak mungkin kursi tertinggi kerajaan itu terus-menerus kosong.
"Hanya kau yang tersisa," kata Galahad saat itu.
"Tapi, aku takut tidak bisa menjalankan tugas seorang raja. Aku takut tak bisa berlaku adil, dan menyejahterakan rakyat Velendria," balas Jacob merasa tak percaya diri. Bahkan dalam hidupnya, dia tak pernah berpikir untuk berada di posisi itu.
"Jangan khawatir, banyak yang akan membantumu."
"Apa yang lain akan setuju dengan ini?" tanya Jacob ragu.
"Aku rasa ... mau tidak mau semua orang harus setuju. Hanya kau keturunan bangsawan Velendria yang tersisa. Setidaknya kau bisa menjaga takhta sampai Putri Victoria cukup umur untuk menerima warisan keluarganya."
Jacob diam sejenak, memikirkan kemampuan dirinya yang tak pernah bersiap untuk ini. "Beri aku waktu dua hari. Aku ingin bicara dengan istriku dan meminta pendapatnya."
"Baiklah. Jika kau siap, jangan ragu untuk memberitahuku."
Jacob tak membuang waktu lama. Setelah mengobrol dengan Galahad, dia lantas menemui Izebel. Betapa girangnya wanita itu ketika mendengar kabar bahwa sang suami akan diangkat menjadi seorang raja. Sudah pasti dirinya pun akan menjadi ratu di kerajaan tersebut.
"Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kau pantas mendapatkannya, suamiku. Takdir yang sudah mengatur hal ini. Kau tinggal jalani dan nikmati saja," kata Izebel menggebu-gebu.
Kini, tak ada yang harus dikhawatirkannya lagi. Jacob meyakini bahwa memang ini jalan yang harus dia tempuh.
Di malam hari, pria itu mendatangi kamar Victoria. Gadis berusia tiga tahun itu sudah tertidur lelap sambil mengisap ibu jarinya. Jacob duduk di tepi ranjang seraya memperhatikan wajah tenang itu dengan mata teduhnya.
"Sayang, izinkan Paman menggantikan posisi ayahmu. Suatu saat nanti, akan kukembalikan padamu apa yang berhak menjadi milikmu."
Perlahan-lahan, tangan Jacob membelai lembut rambut perak Victoria. Rasa sayangnya pada si keponakan, sama besarnya seperti pada anak kandungnya sendiri.
Namun, setelah dua tahun resmi menjadi raja Velendria, sikap Jacob pada Victoria berangsur berubah seratus delapan puluh derajat. Dia mulai memandang gadis itu sebagai suatu beban yang harusnya tak dia pikul. Mula-mula, Jacob tak pernah menemaninya bermain lagi. Lama-kelamaan sudah bisa memarahi dan membentaknya, dan pada akhirnya, Victoria kecil dipindahkan ke sebuah paviliun di sebelah istana.
"Darah lebih kental daripada air. Kau tidak bisa menyamakan perlakuan kepada anak kandungmu sendiri dengan anak orang lain meskipun itu keponakanmu. Loralei tak suka melihatmu dekat dengan Victoria. Dia ingin ayahnya hanya miliknya saja," ujar Izebel, mulai meracuni pikiran Jacob. Rasa cinta yang begitu besar pada istrinya, membuat Jacob selalu mengiyakan apa kata Izebel.
Bertahun-tahun terlewati, antara Jacob dan Victoria sudah seperti tak ada ikatan darah lagi. Jacob bersikap seperti orang asing. Dia tak benar-benar menggantikan posisi Balthazar sebagai ayah Victoria. Hanya menggantikan Balthazar sebagai raja Velendria saja.