Pintu ruang bawah tanah dibuka dengan kasar. Cahaya dari beberapa obor yang dibawa para prajurit perlahan-lahan muncul menerangi tempat gelap itu. Victoria mengira bahwa orang-orang yang masuk hendak mengantar makanan untuknya.
Tak lama kemudian, dari arah belakang para prajurit itu, keluarlah Izebel. Dia memutar kunci pada gembok yang tersemat di jeruji besi. Lalu, memerintah mereka untuk mengeluarkan Victoria dari sana.
"Waktumu akan segera tiba. Lewat tengah malam nanti, kau akan dibawa ke perbatasan di Hutan Nemorosa. Kau akan segera mendatangi ajalmu."
Victoria diseret keluar dalam keadaan lemah dan kumal. Tanpa diberi makan terlebih dahulu, dia dimandikan dan dipakaikan gaun pemberian Jacob. Wajah Victoria dirias sekadarnya saja. Rambutnya pun hanya disisir dan dibiarkan tergerai.
Jacob dan Galahad juga mempersiapkan diri untuk mengantarkan Victoria, begitu pula Luther. Dia mengenakan baju berwarna cokelat tua. Sebilah pedang sudah tersemat di pinggangnya. Menatap diri di depan cermin sambil merapikan rambutnya.
Pintu kamar terbuka lebar. Loralei masuk bersama ibunya setelah makan malam. Dia terlihat masih pucat dan lemah sejak kehamilan. Ke mana pun dia pergi, harus ada seseorang yang mengawalnya.
Ibu dan anak itu kebingungan mendapati Luther telah rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil memakai sepatu bot kulit. Luther sama sekali tak peduli dengan kehadiran istri dan ibu mertuanya.
"Luther, kau mau ke mana?" tanya Izebel dengan dahi berkerut.
"Aku akan ikut ke Hutan Nemorosa."
"Apa!" pekik Izebel. Sementara Loralei hanya diam. "Kau tak boleh ikut! Istrimu sedang sakit karena mengandung anakmu. Bisa-bisanya kau lebih memilih menemani Victoria."
"Ini tak akan lama. Aku juga harus menjaga Yang Mulia Raja apabila bangsa vampir itu tiba-tiba menyerang," ujar Luther beralasan.
"Tidak bisa! Kau harus tetap di sini bersama Loralei. Ada banyak prajurit yang akan mengantarkan Victoria. Ayahmu juga ada. Jadi, kau tak perlu terlalu memikirkannya."
Luther menatap tajam wajah Izebel. Berniat untuk berdebat lagi. Namun, sang ratu langsung berbicara sebelum Luther memulai duluan. "Jangan berani menolak, atau kau akan tahu akibatnya!"
Tak ada pilihan lain selain menuruti. Namun, Luther meminta izin sebentar pada Izebel untuk menemui sang ayah. Dia harus menitipkan tusuk konde itu pada Galahad agar diberikan kepada Victoria.
"Apa ini?" tanya Galahad.
"Itu senjata yang harus dirahasiakan. Di dalamnya ada sepasang jarum besar yang terbuat dari perak. Aku yakin para vampir itu tak akan menyadarinya. Katakan pada Victoria untuk selalu membawanya ke mana pun dia pergi."
Galahad mengangguk paham. Dia mengambil tusuk konde tersebut dan menyimpannya di dalam saku. "Baiklah. Kami akan segera berangkat."
"Ayah," panggil Luther ketika Galahad melangkah pergi.
"Ya?"
"Bisakah sampaikan pada Victoria bahwa aku masih sangat mencintainya, dan aku akan menunggunya kembali?"
Galahad tersenyum getir sambil menepuk pundak Luther. "Ayah akan pikirkan nanti."
Kini, tak ada lagi kesempatan bagi Luther melihat Victoria untuk terakhir kalinya. Rombongan itu mulai bergerak mengarah ke Hutan Nemorosa. Luther berdiri di balkon kamar sambil menghela napas berat. Selain untuk berbicara sebentar dengan Victoria, dia juga memiliki niat lain. Luther sangat ingin melihat bagaimana rupa si raja vampir itu. Agar jika punya kesempatan, Luther berjanji akan membalaskan dendam apabila Draic menghilangkan nyawa gadis yang dicintainya.
~~~
Kabut semakin tebal dan hawa bertambah dingin ketika mereka memasuki Hutan Nemorosa lebih dalam. Bahkan, lentera-lentera yang dibawa tak sanggup menembus gelapnya hutan tersebut. Suara-suara hewan malam mulai mengalihkan fokus mereka. Tak pernah ada yang melintasi hutan sejauh ini sejak delapan belas tahun yang lalu.
Menyadari bahwa mereka semakin dekat dengan perbatasan, Galahad bergegas melakukan apa yang Luther pinta. "Tuan Putri," bisiknya memanggil.
Victoria menoleh ke arah Galahad dan bertanya lewat lirikan matanya.