The Blood : Victoria

Blarosara
Chapter #19

Chapter 18

Victoria seketika memberontak hingga membuat para Noctari itu kewalahan. Dia memukul, menendang, dan menarik-narik rambut mereka dengan sekuat tenaganya.


"Bagaimana ini? Apa kita lumpuhkan saja dia?"


"Jangan! Kalau sampai dia terluka, kita yang akan dihabisi!"


Di tengah kebingungan itu, akhirnya Draic muncul di ambang pintu. Dia bergegas datang sesaat setelah mendapat kabar tak baik dari kamarnya. Pria itu melangkah mendekat, namun Victoria malah semakin menjauhkan diri, dan kini nekat memanjat pembatas balkon.


"Jangan coba-coba mendekat!" Gadis itu memperingatkan Draic dengan jari telunjuk yang mengarah ke pria berwajah pucat itu.


"Turunlah, Victoria. Di situ berbahaya, kau bisa jatuh."


"Memang itu yang kumau. Lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan musuh keluargaku. Aku tidak sudi disentuh oleh orang yang telah membunuh ayahku!"


Victoria mengulurkan sebelah kakinya. Dia melirik ke bawah sejenak, memandangi tebing terjal dan bebatuan tajam yang siap menyambutnya, lalu menarik napas dalam dan memejamkan mata. "Aku tahu, ini akan sakit." Akan tetapi tekadnya sudah bulat. Mungkin dia akan pasrah jika Draic ingin membunuhnya. Tapi, dia tidak bisa menerima begitu saja untuk dinikahi.


"Victoria, jangan lakukan itu. Turunlah."


Ucapan Draic hanya bagaikan angin berlalu saja. Dalam seperdekian detik, tubuh Victoria sudah terjun bebas tanpa beban. Para Noctari di belakang Draic sontak menutup mulut mereka. Sementara itu, Draic langsung berlari cepat dan ikut melompat.


Jubah hitam yang dikenakannya seketika berubah menjadi sayap kelelawar besar. Dengan kecepatan tinggi dia menyusul Victoria yang sedikit lagi menyentuh bebatuan tajam itu. Tangan Draic mengulur. Jantungnya berdebar kencang. "Jangan sampai lima ratus tahun penantianku menjadi sia-sia hanya karena hal bodoh ini!" rutuknya dalam hati.


Draic berhasil meraih tubuh Victoria dan merengkuhnya erat, meski tubuhnya sendiri menghantam bebatuan sebelum akhirnya dia bisa menyeimbangkan diri dan kembali mengepakkan sayapnya.


Ketika sampai di kamarnya, Draic langsung membawa Victoria yang masih dalam gendongannya turun ke lantai dasar, di mana altar pernikahan berada. Tak dipedulikannya lagi gadis yang tengah meronta minta dilepaskan itu.


"Turunkan aku sekarang juga!"


"Aku akan menurunkanmu ketika kita sampai di altar."


Mendengar hal itu, Victoria teringat akan jarum peraknya. Saat tangannya hendak meraih benda itu, matanya teralih pada para vampir yang sudah menanti di sana.


"Ini waktu yang kurang tepat. Mereka pasti akan lebih dulu menyerangku."


Akhirnya Victoria pasrah kali ini. Draic menurunkannya tepat di hadapan seorang pria vampir renta yang terlihat seperti seorang pendeta. Namun, dia tak memegang kitab ataupun memakai atribut keagamaan. Victoria tak dapat menebak-nebak berapa usianya—bahkan usia Draic pun dia tidak tahu. Tapi, kalaulah pria tua itu manusia, pasti usianya sekitar delapan puluhan tahun.


"Siap?" tanya pria itu.


Draic mengangguk sekali, sementara Victoria tidak tahu harus merespons bagaimana, sebab dia memang tak pernah bersiap untuk pernikahan mendadak ini.


Sama halnya seperti Luther dan Loralei waktu itu. Mereka diminta untuk berpegangan tangan dan mengucap sumpah. Namun, bukan atas nama Tuhan, melainkan leluhur Draic.


"Demi nama Varyen, leluhur agung yang menurunkan darah abadi dalam nadiku.

Aku, Draicelus Vladislav, di hadapan malam yang menjadi saksi, dalam keabadian yang dingin dan waktu yang tak mengenal akhir, bersumpah untuk menahan dahagaku dari darahmu. Menyerahkan cinta abadi milikku padamu, seorang manusia fana."


Suara Draic memenuhi ruangan hening itu. Setiap kata-katanya membuat Victoria merinding. Dia tak pernah mendengar sumpah seperti itu dalam sebuah pernikahan, seumur hidup. Dirinya pun bingung, apa yang harus dikatakan untuk menyempurnakan ritual sakral ini. Dan ....


"Kenapa harus Varyen? Apa mereka tak punya tuhan?" Victoria bertanya-tanya dalam hati.


"Apa Anda bersedia menjadi istri dari Yang Mulia Draicelus Vladislav, Putri Victoria?" tanya vampir tua tersebut.


Victoria menjadi gelagapan. Sungguh, semuanya di luar dugaan. Mengira bahwa nasibnya akan sama seperti sang ayah dan para leluhurnya.


"Dia akan bersedia, dan harus bersedia," sela Draic.


Tak ada satu pun yang bisa membantah. Kemudian, Lilith membawakan sebuah cincin untuk Draic pasangkan ke jari manis Victoria.

Lihat selengkapnya