Tak terasa kini kurang satu hari lagi ujian akhir sekolah. Semuanya telah melakukan persiapan, termasuk persiapan mental. Tak ada diskusi selain pelajaran, itu adalah hari-hari tenang untuk belajar selama tiga hari.
Ujian telah resmi dimulai. Tak ada wajah lain selain wajah sangat serius terpancar selama tiga hari masa ujian. Semua peserta ujian menjadi tegang. Murid-murid berada dalam tekanan besar.
Dalam sekejap, masa sekolah menengah atas akan segera berakhir. Semua benar-benar terasa enggan. Mereka sudah bekerja kelas selama tiga tahun. Setelah ini selanjutnya, menunggu pengumuman kelulusan sekolah, lalu ujian masuk Universitas. Namun Nadia tiba-tiba memikirkan perihal hatinya. Bukan hanya itu saja, terlintas memikirkan saat semuanya mulai menghabiskan waktu bersama. Pertanyaannya, berapa lama mereka akan bersama?
Ingat kata Gisel : ‘Beberapa hal mungkin akan berubah. Tapi, selama kita saling memikirkan saling komunikasi satu sama lain. kita bisa bertemu kapan saja. Itu nggak akan mengubah apapun secara drastis.’
**-**
Sinar bulan mengintip dari awan kelabu. Nadia menengadahkan kepalanya melihat satelit bumi menyerupai pisang bersinar bersama bintang-bintang dan bintang yang bersinar di langit. Dia teringat pada orang-orang yang menyinari hidupnya.
Orang pertama adalah Gisela Abbas. Sahabatnya selama tiga tahun. Tidak ada yang diberikan Gisel pada Nadia, kecuali menjadi pendukung dan penyemangatnya selalu sepanjang waktu
“Apa itu bulan sabit?” suara pemuda berdiri beberapa meter darinya.
Suara itu membuyarkan lamunan Nadia.
“Sam.”
Samuel adalah satu satu orang yang bersinar sampai saat ini.
Samuel mendekat, ia ikut mengadahkan kepalanya. “Ya itu bulan sabit, bentuk yang indah,” ucapnya sambil menoleh menatap Nadia dari samping. “Tapi bulan purnama di depanku lebih mengkilau.”
Rayuan Samuel mengandung cokelat belgium premium yang sangat mahal. Siapapun yang beruntung mendapatkannya akan meleleh seperti es cream mencair di atas pemanas, itulah yang dirasakan Nadia.
Nadia menghirup oksigen malam dalam-dalam sambil menutup mata. “Waktu berjalan sangat cepat, aku nggak percaya... akhirnya kita berhasil ,” katanya melegakan.
“Waktu pasti telah berlalu.”
Nadia menoleh ke Samuel yang sedari tadi sudah menatapnya dari samping.
“Aku merasa baru kemarin kita masuk di SMA.”
“Ya.”
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Aku sedang melihat dua bintang di matamu. Bagaimana ini?!” ucap Samuel nada lembut.
“Hmm? Kamu mau mengambilnya?” jawaban polos yang disengaja oleh Nadia.
“Bukan. Bagaimana aku mengalihkannya. Aku tidak bisa berhenti menatapnya.”
“Haha tatap saja sampai kamu bosan.”
“Tidak ada kata bosan memandangimu.”
“Hekk.”
Wajah memerah di wajah Nadia terpancar terang di malam hari.
“Nad, ada yang mau kukatakan padamu.” Samuel tersenyum terlebih dahulu. “Aku sudah menyimpan ini dari sebulan yang lalu. Dan aku berjanji akan menyampaikannya sama kamu setelah kita ujian. Karna aku nggak mau kalau sampai itu membuatmu terganggu.”
Jantung Nadia mulai tak tenang, beragam macam asumsi muncul dalam kepalanya.
“Apa kamu dan Jefry hanya teman?”
“Memangnya kenapa?”
“Karna aku menyukaimu.”
‘Ya, aku sudah tahu itu.’ – Nadia.
Dia terdiam menunggu, apa yang akan dilakukan Samuel selanjutnya.
“Nad, aku menyukaimu.” Samuel menunduk dan mengulang kalimatnya. Ia mengangkat kepalanya kembali.“Aku menyukaimu bahkan lebih dari itu, Nad. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu,” nadanya terdengar lembut dan sangat dalam.
Nadia mematung sejenak. Diam seribu bahasa.
“Sam. A-aku perlu waktu untuk memikirkannya, mempertimbangkan. Dan juga aku belum tahu tentang perasaanku ke kamu,” balas Nadia.
“Aku mengerti. Aku akan memberi kamu waktu tiga hari untuk memikirkannya.”
“Hah?? Tunggu.”
“Tolong pikirkan dengan serius selama tiga hari ke depan. Aku tunggu.”
Nadia terpaku dan membisu.
“Tapi berjanjilah, kamu akan menerima apapun keputusanku.”
Samuel mengangguk. “Saat ini aku hanya ingin menikmati malam ini sama kamu.”
**-**