Tentang Nadia.
Dibesarkan oleh Ibu tunggal, membuat Mami Nadia sangat memperhatikan setiap prestasi yang Nadia buat. Dan mendorong anak perempuannya pergi ke akademik. Nadia sudah berhasil sampai ke tahun ketiga di sekolah menengah dengan nilai tinggi. Dia akan terus bekerja keras untuk meningkatkan akademiknya.
Bahkan jika dia mengingat teman sebangkunya Gisel, teman yang selalu bersamanya di kelas sepanjang hari. Keduanya duduk bersama saat istirahat dan saling mengisi hari-hari. Saling bercerita tentang siswa laki-laki di sekolah. Hingga keduanya berteman dengan siswa tetangga kelas dan satu dari jurusan berbeda.
Dan Jefry, siswa berjalan arah yang sama ketika pulang sekolah. Dia tetap bersikap ramah dengannya meski Jefry kadang menyebalkan. Dan akhirnya mereka bersama hingga akhir ujian. Pemuda itu bergaul dengan baik meski seperti pengganggu bersama Yudha. Itulah kesan pertama Nadia untuk siswa tetangga kelasnya.
Selain itu, siswa jurusan IPA bersikap lembut padanya. Selalu bertingkah mendekati. Berbicara dengan Samuel sangat menyenangkan, Nadia merasa santai berada di dekat Samuel. Bagian terburuknya adalah kedua siswa tersebut menyukai Nadia.
Nadia menyadari bahwa keheningan dapat tampak lebih mencolok ketika sesuatu yang keras menghilang. Mereka akan berada di universitas yang berbeda, tidak saling melihat satu sama lain. Semakin jarang menghabiskwan waktu bersama seperti saat masa sekolah. Sendirian adalah hal wajar bagi setiap insan.
**-**
Semua orang bergerak maju dengan mantap di jalurnya masing-masing. Setelah pengumuman hasil ujian, dan semua lulus kecuali murid yang memiliki masalah nilai.
Kehidupan mereka berubah secara halus. Hubungan Samuel dan orang tuanya semakin hangat, Ayah Samuel memberikan kelonggaran pada hobbnya, yaitu bermain piano. Lain sisi, ketika Samuel ingin melanjutkan studinya dengan jurusan yang dia pilih, anehnya Ayahnya langsung menyetuji permintaannya. Itu membuatnya sangat bersyukur. Tanpa mengesampingkan hobbynya, dia akan bekerja lebih keras untuk memenuhi harapan orang tuanya.
Nadia kuliah di Universitas Negeri berada kota yang sama. Dia mendapat beasiswa di kampus tempatnya mendaftar. Setidaknya dia tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk semester. Itu menyenangkan. Dia selalu membuat bangga Maminya.
Jefry berhasil masuk ke perguruan tinggi, mewujudkan impian Papinya. Dia mengatakan bahwa dia akan meningkatkan nilainya. Dia mempertimbangkan akan mencari pekerjaan agar memiliki tabungan untuk biaya pendidikannya, membantu meringankan beban Pak Kemal. Pekerjaan paruh waktu Jefry sebenarnya bukanlah karirnya.
Meskipun Yudha dan Gisel sering bertengkar kecil, setidaknya itu membuat hubungan keduanya semakin erat. Keduanya melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Jefry.
**-**
Setelah sibuk dengan kesibukan maing-masing pada periode pertama. Waktu berjalan cepat... periode kedua... hingga Periode ketiga.
Hujan turun pertama kali di tahun itu. Musim penghujan telah datang.
Mereka kompak akan merayakan tahun baru bersama-sama.
Dalam grup chat.
Gisel : Semua harus datang yah!
Jefry : Hah? Kenapa reuniannya cepat sekali. Kita baru beberapa bulan lalu.
Gisel : Ini bukan reunian sekolah, tapi reunian khusus kita-kita saja.
Nadia : Terserah kamu ajalah, Sel.
Gisel : Pokoknya kalian harus datang. Nanti aku share tempatnya.
Yudha : Kita akan keluar melihat kembang api sebentar malam.
Jefry : Keluar di moment begini... berdesak-desakan kerumunan orang. Lebih baik kita membuat kembang api sendiri di rumah.
Samuel : Jadi bagaimana?
Nadia : Oke. Kita voting saja.
Hasil voting dari lima suara yaitu, empat di antaranya memilih merayakan malam pergantian tahun di luar kecuali Jefry seorang diri.
**-**
Semuanya berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Area itu sudah dipenuhi oleh lautan manusia sejak sore.
Yudha memberikan satu pelukan rindu untuk sahabatnya Jefry dan Samuel. Bersamaan dengan itu Nadia telah tiba di tempat. Dia adalah seorang mahasiswi sekarang.
“Gimana kabar kalian?”
“Kami mengalami banyak hal. Tapi semuanya sudah baik-baik saja sekarang.”
“Nad, bagaimana kuliahmu?”
“Lancar,” jawabnya singkat padat.
“Kamu kok kurusan, Jef,” kata Gisel gamblang seraya memperhatikan Jefry dari atas sampai ke bawah.
“Nggaklah, ini tuh BB ideal.”
Sekarang mata Gisel beralih ke sosok Samuel seraya berkata. “Sam juga kurusan. Kenapa kalian semua kurusan?”
Samuel dan Jefry saling tukar pandang. Mereka sudah hapal betul karakter Gisel yang bawel.
“Ya ginilah kalau nggak ada yang urus,” balas Samuel terkekeh.
Keempatnya tertawa.
“Sel, lisptikmu terlalu mencolok.”
“Ayolah, Nad. Kita sudah lama nggak bertemu... ini bukan lingkungan sekolah lagi.”
Sebagai anak delapan belas tahun yang baru saja memasuki usia dewasa. Berdiri atau berbicara kembali dengan teman seumuran yang masih kanak-kanakan bukanlah hal mudah.
“Mumpung kita semua ngumpul. Jadi kita akan quality time sampai besok.”
Pada malam hari sebelum waktu pergantian tahun. Ratusan orang tumpah ruah memadati sepanjang jalan dan beberapa titik-titik keramaian untuk meluncurkan petasan dan kembang api. Selain petasan dan kembang api, ada juga yang membawa terompet yang dibunyikan sepanjang jalan. Akibatnya arus lalu lintas ramai, semrawut dan macet.
Kelima remaja memilih titik di dekat pelabuhan tepatnya di dermaga beton yang tidak jauh dari rumah Jefry. Orang-orang datang meledak didominasi remaja.
Sembari menunggu waktu yang tidak kurang tiga puluh menit lagi. Mereka berbincang-bincang sambil memegang petasan dan kembang api masing-masing ditengah riuknya kota.
“Pemandangan di sini dipenuhi lautan manusia.”
“Kenapa tidak kita ke ujung dermaga?”
“Ide bagus.”
Gisel menyahut. “Aku mau kesana dong.” seraya menunjuk suatu tempat yang ramai.
“Di sini saja,” runtuk Nadia.