Nadia butuh menjernihkan pikirannya. Dia melamun di kamar Gisel. Gisel mendapati wajah suram itu.
“Wajah macam apa itu?”
“Heh?”
“Apa terjadi sesuatu?”
“Nggak. Aku cuman sedikit lelah saja,” jawab Nadia sambil menyandarkan kepalanya ke belakang.
“Kamu tidur saja. Nanti aku bangunin kalau sudah pagi.”
Nadia tak menghiraukan, dia menyalakan layar ponselnya sesaat. Kemudian menjelaskan tentang pengakuan dadakan Jefry.
“Woah... nggak mungkin. Eh maksudku itu nggak apa-apa...?”
“Ya begitulah.”
“Jefry lucu... dia kayaknya menunggu malam ini untuk mengakuinya.”
“....”
“Jadi apa jawabanmu? Kamu menolaknya seperti Samuel? Atau kamu menggantungnya?”
“Jujur... aku masih terkejut.” Nadia cengengesan. “Aku hanya memasang wajah datar, tapi aku tidak yakin. Apakah Jefry mengerti itu atau tidak?!”
Ada fase ambigu di antara mereka bertiga.
“Aku melihat mata Samuel semalam. Dia menatapmu aneh.” Gisel memegangi dagunya. “Menurutku kamu harus tetap memberinya jawaban seperti Samuel, agar Jefry tidak kegantung kayak jemuran. Bahkan kalau kamu mau memberi kesempatan pada Samuel lagi. Kamu bisa mengatakannya.”
“Aku blank! Aku sendiri bingung bagaimana perasaanku...”
“Kamu harus memikirkannya dengan serius...!”
“Tapi aku pikir, aku tipe yang suka memimpin daripada mengikuti...”
“Yeah. Dan Samuel sangat kalem dibanding Jefry, dia bukan tipe yang harus diikuti,” sambung Gisel. “Jefry orangnya aktif, tidak cocok untuk kamu yang ekstrovert. Bayangkan dengan Samuel, kalian sama-sama lembut.”
“Tapi aku harus mengatakan, aku juga terkejut. Jefry masih memendam perasaannya sampai sekarang.”
“Aku tahu.”
“Biarkan aku mempertimbangkannya”
“Nad, kamu harus mengambil langkah.”
“Itulah yang kupikirkan dari tadi, Sel!”
Nadia merenung. Mengingat kembali ke masa sekolah. Jefry adalah tetangga kelasnya. Bahkan mereka baru saling mengenal di akhir semester. Sebelumnya mereka bahkan tidak pernah saling menyapa. Dan Samuel, dia tidak tahu kapan tepatnya dia mulai melihat ada sesuatu dari tatapan Samuel. Sekarang semuanya berada di perguruan tinggi yang berbeda.
Gisel memegang tangan Nadia. “Aku masih khawatir dengan persahabatan Jefry dan Sam kalau kamu tetap memiih salah satu dari mereka,” nada khawatir melonjak dari suara Gisel. “Tapi semoga kekhawatiranku nggak terjadi.”
Sejenak Gisel terdiam kemudian tertawa lepas. HAHAHA
“Apa yang lucu?”
“Ini akan menjadi drama yang menarik.”
Tiba-tiba Nadia dipenuhi dengan dorongan yang tak terpuaskan.
“Nad, aku punya saran yang lebih baik. Apa kamu mau mendengarnya?”
“Saran yang lebih baik?” Entah kenapa Nadia merasa saran Gisel tidak baik. “Katakan.”
“Lebih baik kita mencari informasi tentang mereka berdua lagi dan ....”
“Tunggu sebentar. ”Nadia menepuk wajahnya sekali dan menghentikan Gisel melanjutkan ucapannya. “Kita sudah terlalu banyak informasi.”
“Tetapi....”
“Beri aku waktu. Aku perlu lebih banyak waktu untuk memikirkannya. Aku akan hati-hati mempertimbangkan ini.”
“Baik. Aku menunggu.”
Dentingan detak jam terus bergerak, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, satu setengah jam, ...
Gisel menepuk pipi sahabat hingga tersadar. “Eh malah bengong.”
“Aku lagi mencerna.”
“Jadi apa kamu sudah mendapat petunjuk?” tanya Gisel setia menemani. “Hufft, aku nggak mau terlibat dalam perasaanmu.”
Ia menatap sahabatnya. “Sepertinya aku sudah tahu... siapa yang lebih aku perhatikan.”
“Terus kesimpulannya?”