The Chirity

capa
Chapter #2

#2

Keesokan paginya, keluarga kecil itu sudah berkumpul di meja makan. Aroma roti panggang dan minuman hangat memenuhi ruang makan yang tenang. Seina duduk di salah satu kursi sambil mengaduk susu cokelatnya, sementara Reina tampak lebih bersemangat dari biasanya.

Ayah mereka melipat koran yang sejak tadi ia baca, lalu menatap Reina.

"Kamu jadi daftar ke sekolah itu?" tanyanya.

Reina langsung mengangkat kepala. Matanya berbinar penuh semangat.

"Iya, Pa. Aku mau daftar ke sekolah atlet itu," jawabnya cepat. "Boleh, kan?"

Ibunya yang duduk di sampingnya tersenyum tipis, lalu menatap putri sulungnya dengan lembut.

"Kalau memang itu pilihanmu, berarti kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu, Reina," ujarnya menasihati.

Reina mengangguk cepat.

"Iya, Ma! Tenang aja. Aku nggak bakal menyia-nyiakan semua usaha yang udah aku lakuin."

Ayah mereka mengangguk pelan, lalu meletakkan korannya di meja. Kali ini suaranya terdengar lebih serius.

"Papa tidak melarang. Kalau itu yang kamu mau, kami akan mendukung."

Reina langsung tersenyum lebar.

"Tapi ada satu syarat," lanjut ayahnya.

Reina berhenti mengunyah.

"Apa pun yang terjadi nanti, selama kamu berada di sana tanpa pengawasan kami, kamu tidak boleh bermain curang. Apalagi menyogok siapa pun hanya demi kemenangan atau panggung."

Suasana meja makan mendadak sedikit lebih hening.

Reina menatap ayahnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk mantap.

"Iya, Pa. Aku gak bakal begitu."

Nada suaranya ringan, tapi penuh keyakinan.

Di seberang meja, Seina yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut tersenyum kecil. Baginya, kakaknya memang selalu seperti itu, penuh semangat, penuh mimpi.

"Setelah sarapan, Reina ikut Papa ke ruang kerja Papa, ya?" ucap sang ayah tiba-tiba.

Lihat selengkapnya