Hari berlalu menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan. Dan tanpa terasa, waktu pun berjalan hingga tahun-tahun berikutnya. Beberapa minggu setelah kelulusan SMA, Reina kini bersiap meninggalkan rumah untuk tinggal di asrama barunya.
Beberapa bulan sebulan kelulusan, ia sudah mendaftarkan diri dan mengikuti berbagai tes seleksi. Hasilnya tidak mengecewakan, Reina berhasil lolos masuk ke salah satu sekolah atlet nasional ternama.
Di kamar, koper besar telah terbuka di atas tempat tidur.
"Apa saja yang harus dibawa lagi?" tanya sang ibu sambil melipat beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam koper.
Reina yang sedang berdiri di dekat meja hanya menoleh sekilas.
"Aman, kok, Ma. Sudah lengkap," jawabnya santai. "Tinggal pakaian saja."
Tangannya sibuk memeriksa perlengkapan badminton miliknya; raket kesayangan, beberapa kok, serta tas olahraga yang selalu ia bawa saat latihan.
Di tepi tempat tidur, Seina duduk diam. Sejak tadi ia hanya memperhatikan ibunya yang sibuk merapikan pakaian dan kakaknya yang tampak begitu bersemangat mempersiapkan keberangkatan. Tak ada yang ia katakan. Namun matanya terus mengikuti setiap gerakan mereka.
Seina menunduk sedikit, memainkan ujung seprai dengan jarinya. Sejak tadi ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.
Reina yang sedang memasukkan raket ke dalam tas olahraga akhirnya menyadari tatapan adiknya.
"Kok, diem aja?" tanya Reina sambil tersenyum kecil. "Biasanya kamu paling ribut kalau aku lagi beres-beres begini."
Seina mengangkat bahu pelan. "Aku cuma liat-liat."
Ibu mereka tertawa kecil tanpa berhenti melipat pakaian.
"Liat-liat atau sebenarnya sedih kakaknya mau pergi?" goda sang ibu.
Seina langsung menggeleng cepat. "Nggak, kok."
Namun nada suaranya tidak seyakinkan itu.
Reina mendekat dan duduk di sampingnya di tepi kasur. Ia menyenggol bahu Seina dengan bahunya.
"Cuma asrama, tau," katanya ringan. "Bukan pindah ke planet lain."
Seina akhirnya menoleh.
"Tapi jauh," gumamnya.
Reina terdiam sebentar. Lalu ia mengacak rambut adiknya dengan pelan.
"Denger, ya. Ini cuma sementara. Aku harus latihan lebih serius kalau mau masuk tim nasional."
Ia menunjuk Seina dengan raketnya.
"Dan nanti kalau kamu udah cukup besar, yaaa, kita bisa main bareng lagi. Jadi pasangan ganda."
Seina menatapnya lama. "Kamu janji?"
Reina tersenyum, mengangkat raketnya seperti saat mereka latihan dulu. "Janji."
Untuk beberapa detik, kamar itu kembali dipenuhi suasana yang hangat.
Hari ini adalah hari keberangkatan Reina ke asrama barunya.