The Chirity

capa
Chapter #4

#4

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elit. Jalanannya rapi dan tenang, diapit pepohonan tinggi yang berjajar simetris di kedua sisi. Rumah-rumah besar berdiri di balik pagar tinggi, menciptakan kesan eksklusif, nyaris terlalu sunyi.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah keluarga Chirity.

Pak Djarot turun lebih dulu, lalu membukakan pintu belakang dengan sigap.

"Sampai, Nduk."

Seina turun sambil merapikan tas di bahunya.

"Makasih, Pak."

Bangunan rumah itu menjulang dua lantai dengan gaya modern minimalis. Jendela-jendela kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memantulkan cahaya sore yang hangat. Dindingnya didominasi warna putih dan abu-abu, dipadukan dengan aksen batu alam yang memberi kesan mahal dan kokoh.

Halaman depan ditata sempurna, rumput hijau dipangkas rapi, kolam kecil di sisi kiri, serta air mancur mungil yang memercikkan cahaya keemasan.

Begitu Seina melangkah masuk, lantai marmer luas menyambutnya, memantulkan bayangannya dengan jelas. Ruang tamu dipenuhi furnitur elegan, sofa krem besar, karpet bulu tebal, dan sebuah piano hitam di sudut ruangan. Lukisan abstrak menghiasi dinding, sementara rak kaca memamerkan koleksi barang antik milik sang ayah.

Saat ia melangkah lebih dalam, suara langkah terdengar dari arah tangga.

"Seina?"

Ia menoleh. Sang ibu sudah berdiri di sana, anggun seperti biasa. Rambutnya tersanggul rapi, gaun rumah berwarna pastel membalut tubuhnya dengan sempurna. Kilau lampu kristal memantul pada anting berlian di telinganya, membuatnya tampak semakin berkelas. Ia tersenyum tipis. Senyum yang sopan. Terukur.

"Kamu sudah pulang," ucapnya sambil berjalan mendekat. "Hari pertama sekolah bagaimana?"

"Baik, Ma. Sama aja kayak biasa," jawab Seina singkat, nadanya datar.

Mama mengangguk pelan, seolah lega. "Oh, iya. Papa bilang dia akan pulang lebih awal hari ini. Sekitar jam enam."

Seina hanya mengangguk kecil. "Kalau gitu, aku mau mandi dan beres-beres dulu."

"Silakan," balas Mama lembut. "Istirahat dulu."

Tanpa menambah kata, Seina berbalik dan menaiki tangga marmer menuju kamarnya.


Tepat pukul enam, suara pintu utama terbuka.

Langkah kaki yang berat dan mantap memasuki rumah, disertai aroma parfum maskulin yang khas.

Papa.

Mama segera berdiri dari sofa dan menyambutnya. Kali ini, senyumnya jauh lebih hangat.

"Selamat datang," ucapnya lembut.

Pria itu mengangguk sebelum mengecup kening Sang istri. "Harj ini cukup melelahkan," katanya secara singkat.

Mereka berbincang sebentar tentang pekerjaan, janji temu dengan klien, dan janji makan malam. Percakapan yang terasa jauh dari dunia Seina.

Gadis itu berdiri di anak tangga terakhir, memperhatikan dari kejauhan.

Lihat selengkapnya