Saat ini, Kellion berada di tengah kota yang berantakan, bangunan-bangunan rusak tak terawat seolah sudah ditinggalkan oleh peradaban dalam waktu yang lama. Lumut sudah tumbuh di dinding-dinding gedung, banyak bangunan yang sudah terlihat lapuk dimakan waktu.
Meski begitu, bangunan-bangunan ini tidak sepi, ada banyak makhluk hidup yang menghuninya. Mereka bukan manusia atau hewan, melainkan puluhan jenis monster yang memiliki aneka ukuran. Saat ini, Kellion yang sedang dalam keadaan tubuh kotor oleh noda, ia berhadapan dengan monster yang jumlahnya banyak. Para monster itu terlihat kelaparan dan seluruhnya tampak merupakan karnivora.
Melihat monster yang jumlahnya banyak, bahkan dengan berbagai bentuk dan ukuran, Kellion sama sekali tak takut, tak ada perasaan yang seperti itu di dalam dirinya.
“Jadi, apa yang kalian tunggu? Mau memakanku? Majulah, akan kucincang kalian semua.” Kellion yang sebelumnya sudah melawan pasukan robot, ia tampak optimis dan berani meski di hadapannya saat ini ada banyak monster.
Kellion yang masih berada di tempatnya, dia mengayunkan pedangnya, tiga monster yang bergerak cepat melompat ke arahnya langsung terpotong begitu saja. Bersamaan dengan beberapa monster yang bergerak melompat ke arahnya, Kellion juga melompat ke arah depan.
Di udara, ketika mereka bertemu, Kellion berhasil melepaskan tebasan yang memotong tubuh monster-monster itu, saat dia mendarat, tiga monster menyerang dari arah berbeda, wujud mereka seperti harimau dengan tubuh bersisik. Monster yang ada di depannya langsung ia tikam dengan pedang besar di tangannya, sedangkan monster yang menyerang dari arah samping kanan, ia tendang kuat-kuat sampai makhluk itu terlempar. Sedangkan monster yang menyerang dari belakang, ia berkelit dengan sedikit merunduk lalu saat monster itu mendarat, ia melepaskan tebasan lurus ke arah makhluk itu.
Sebelum mendapatkan serangan lebih lanjut, Kellion melompat mundur bersamaan dengan beberapa monster yang menerjangnya. Kellion berlanjut bersalto ke belakang dengan lompatan tinggi tatkala beberapa monster kembali melompat menyerangnya.
“Wah, wah, kalian benar-benar tak sabaran rupanya.” Kellion yang tak memiliki ruang untuk menghindar, dia melepaskan beberapa tebasan pada beberapa monster yang menyerangnya, lalu sebelum ada yang monster yang menggigitnya, ia bergegas kembali berpindah tempat, melompat maju.
Monster terbesar mulai bergerak, langkahnya membuat jalan retak dan debu mengepul. Monster yang lebih kecil memutari reruntuhan gedung, menyiapkan serangan mendadak. Kellion bergerak, menggunakan gedung retak dan puing sebagai pijakan. Monster yang tinggi mencoba menginjaknya, tapi Kellion memutar tubuh, menggunakan momentum untuk melompat ke reruntuhan di atas menghindari kaki besar tersebut.
Kellion berlari di atas reruntuhan bangunan, menebas setiap monster yang ada di sana dengan mudahnya, lalu melompat ke arah monster yang ukurannya besar. Belum sempat ia melepaskan serangan, monster itu sudah mengangkat cakarnya, melepaskan serangan yang bertepatan dengan Kellion menggunakan pedangnya sebagai tameng, meski begitu, ia tetap terlempar kembali ke daratan.
“Cih, ternyata tak semudah seperti yang kupikirkan.”
Monster mulai menyerang bersamaan. Mereka melompat, mencakar, dan menerkam. Kellion menebas monster dari jarak dekat, memutar pedang untuk membelah tubuh monster terdekat, menggunakan momentum untuk meloncat ke reruntuhan lain sambil melepaskan tebasan.
Darah memuncrat ke mana-mana. Meski begitu, para monster yang tersisa tampak tak gentar, mereka meraung dan tetap berada di tempat, sebagian sudah bergerak melompat mulai melepaskan serangan.