The Chronicles of the Forsaken Stars 1

NRP
Chapter #1

Misi yang tak pernah ada

Kapal ringan Aegis Dawn melayang tenang di orbit planet Tau Ceti B. Dari kaca kokpit, permukaan kehijauan planet tampak berkilau diterpa cahaya bintang, seperti lautan zamrud yang tak berujung.


Di dalam, suasananya jauh berbeda: sepi, hanya ditemani dengung mesin kapal dan klik-klik kecil dari sistem navigasi.


Rin, kapten sekaligus penumpang paling malas di galaksi, duduk menyender di kursi kapten dengan posisi hampir rebah penuh. Tangannya memutar-mutar pistol plasma kecil seperti mainan, sementara matanya sayup menatap panel kontrol yang menyala redup.


“Kalau begini terus, aku bisa tidur sampai pensiun,” gumamnya sambil menendang konsol di depannya pelan.


Di sisi lain, Arya Themis, pilot setengah manusia–setengah Vurra, berdiri tegak di depan panel utama. Jari-jari rampingnya sibuk mengetuk layar holografik, memeriksa satu per satu sistem kapal. Rahangnya kaku, telinganya bergerak sedikit—ciri khas Vurra ketika sedang fokus.


“Kalau kau bosan, bantu aku cek sistem pendingin,” katanya tanpa menoleh.


Rin mendengus. “Aku kapten, Arya. Tugasku mengawasi orang sibuk. bukan jadi orang sibuknya.”


Arya hanya melirik sekilas, tatapan dinginnya cukup untuk membuat kebanyakan orang mundur tiga langkah. Tapi Rin hanya mengangkat pistolnya, memutar silinder energinya, lalu bersiul pelan.


Suasana santai itu buyar saat interkom tiba-tiba berderak, memancarkan suara berat dari Komando Konfederasi.


> “Unit Scout Aegis Dawn, ini pusat. Kalian mendapat misi baru. Segera berangkat ke sistem bintang UY Raith untuk melakukan pengintaian terhadap armada Surtuz. Laporan detail harus masuk dalam enam jam standar.”


Rin menguap lebar, lalu menekan tombol komunikasi.

“Komando, ini Rin. Kenapa harus kami? Ada ratusan unit scout lain yang lebih rajin, lebih disiplin, dan tidak sedang sibuk main kartu.”


> “Kapten Harrin, ini perintah resmi. UY Raith. Armada Surtuz. Catat kekuatan mereka.”




Rin mengangkat alis, menyengir sinis. “Armada Surtuz? Kalian yakin? Apa salah satu petinggi Konfederasi kebetulan punya hutang dan ingin kita mati cepat supaya tagihannya hangus?”


Suara di interkom terdengar menegang.


> “Kapten Harrin, jaga sikapmu! Ini bukan lelucon.”




Rin menyalakan kembali pistol di tangannya, memandanginya seperti sedang memeriksa kuku. “Oh, aku tidak bercanda. Aku hanya kagum dengan kemampuan luar biasa kalian memilih kapal scout paling malas di armada buat intai musuh yang tiga kali lipat lebih kuat. Jenius sekali.”


Keheningan tebal memenuhi kokpit, lalu suara komando meninggi:


> “Cukup! Laksanakan perintah, atau konsekuensinya kau tanggung sendiri!”




Arya menoleh cepat, wajahnya merah padam. “Rin! Kau mau kita dibuang ke pengadilan militer?!”


Rin menghela napas panjang, lalu menekan tombol komunikasi lagi. “Baiklah, Komando. Misi diterima… dengan penuh semangat, cinta, dan kehangatan.”


> “Laporan pertama kami tunggu dalam enam jam. Pusat, selesai.”




Interkom mati dengan bunyi klik dingin.


Arya langsung menendang dasar kursi kapten Rin. “Dasar tidak profesional! Kau pikir semua bisa selesai dengan sarkasme?!”


Rin menoleh malas, menyeringai. “Hidup terlalu singkat untuk serius, Arya. Apalagi kalau sebentar lagi kita bisa meledak dikeroyok Surtuz.”


Arya tidak menjawab. Ia meraih tuas di depannya, menyalakan sistem loncatan. Mesin hyper drive berderum, cahaya biru menyelubungi kokpit.


“Pegangan,” katanya datar. “Kita menuju UY Raith.”


Dengan dentuman lembut, bintang-bintang di luar jendela terulur menjadi garis panjang bercahaya. Kapal Aegis Dawn menembus ruang-waktu, melesat menuju medan bahaya yang menanti.


Cahaya merah keemasan dari bintang UY Raith memancar tajam, memandikan lambung Aegis Dawn dengan kilau yang suram. Kapal kecil itu melambat dari hyper jump, meluncur dengan tenang di ruang kosong, sebelum perlahan mendekati orbit bintang.


Dari kejauhan, pemandangan yang terhampar membuat dada Arya menegang.

Ratusan—mungkin ribuan—kapal perang Surtuz berbaris dalam formasi rapat, hitam berkilat seperti kawanan serangga baja. Kapal induk raksasa dengan menara meriam berputar perlahan, diapit kapal fregat dan destroyer yang melayang seolah membentuk dinding baja tak tertembus.


Arya menelan ludah. “Mereka benar-benar mengerahkan armada penuh…”


Rin, yang duduk dengan kaki naik ke konsol, mencondongkan tubuh dan bersiul panjang. “Wow. Lihat itu. Kalau ada yang menulis buku sejarah, halaman pertama pasti dimulai dengan: Rin dan Arya terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya mereka jauhi.”


Arya mendecak, menyalakan sistem sensor. “Jangan bercanda. Kita di sini bukan untuk bikin lelucon. Aku aktifkan pemindaian jarak jauh. Setidaknya kita bisa hitung jumlah kapal besar mereka.”


Interkom berderak lagi, suara tegas komando memenuhi kokpit.


> “Aegis Dawn, laporkan visual. Berapa besar armada musuh? Jenis kapal yang terlihat?”




Rin menekan tombol, nada suaranya datar tapi penuh ironi. “Laporan visual: jumlahnya banyak sekali. Sungguh banyak. Kalau kau punya fobia keramaian, jangan coba-coba datang ke sini. Untuk detail kapal… tunggu, aku hitung dulu. Satu, dua, tiga… ah, hilang hitungan. Terlalu ramai.”


Hening sesaat. Arya bisa membayangkan wajah komandan di balik interkom yang memerah menahan marah.


> “Kapten Harrin! Hentikan omong kosongmu dan laporkan dengan benar!”




Rin mendengus. “Baiklah, baiklah. Armada Surtuz terdiri dari beberapa kapal induk—setidaknya lima yang terlihat—puluhan destroyer, ratusan fregat, dan lebih banyak lagi kapal kecil yang sepertinya drone atau corvette. Singkat kata: cukup untuk menghancurkan kita seribu kali tanpa berkeringat.”


Arya menggeram. “Komando, kami sedang berusaha mendekat agar bisa menghitung lebih akurat. Kapten akan mengaktifkan perangkat penyamaran.”


Ia menoleh tajam ke Rin. “Kau dengar? Aktifkan cloaking, sekarang.”


Rin mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Baiklah, baiklah. Kapten patuh pada perintah pilot kesayangannya.”


Dengan malas, ia menekan panel di sisi kanan. Mesin kapal berdengung rendah, lalu lapisan cahaya kebiruan menyelimuti lambung Aegis Dawn. Dari luar, kapal itu perlahan memudar, hampir menghilang ke dalam kegelapan ruang.

Lihat selengkapnya