The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #1

Pita yang Mengikat Takdir

JIAN memacu langkahnya dengan cepat. Setengah berlari menyusuri koridor sekolah yang sunyi sambil mengomel sendiri. Joon, sahabatnya itu menghubunginya sesaat lalu ketika ia baru keluar dari toilet usai menyelesaikan tugas piket. Laki-laki itu mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di depan sekolah dan menunggu kedatangannya dalam dua menit. Usai berkata begitu, telepon langsung ditutup sebelum Jian sempat mengomel atau sekadar melayangkan protes, “Kau pikir aku bisa teleportasi?!”

Namun, dasar Joon, laki-laki itu mana peduli apa Jian bisa teleportasi atau tidak, apa Jian bisa berlari kencang atau tidak, atau yang paling penting, apa Jian bisa—kondisi kesehatannya tidak memungkinkan—berlari atau tidak. Tapi yang pasti, Jian harus tiba di hadapan Joon dalam dua menit atau janji ke toko buku batal, seperti katanya tadi.

Berhenti mengomel karena tenaganya terkuras lebih banyak, Jian mulai benar-benar berlari. Ia berbelok melewati salah satu ruangan dan terkejut ketika seseorang tiba-tiba keluar dan menyebabkan tabrakan cukup keras.

Karena yang ditabrak laki-laki, tubuh Jian yang jauh lebih kecil langsung terlempar ke samping dan membentur dinding koridor, sebelum akhirnya tersungkur ke lantai. Mulutnya refleks memekik, “Aduh, pantatku!” saat bagian tubuh itu mendarat lebih dulu di lantai. Lalu seolah baru saja tersadar, ia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada siapa pun di sana. Setelah yakin memang tak ada siapa-siapa selain dirinya dan orang itu, barulah ia mendongak menatap pria asing serba hitam yang kini memandanginya dengan ekspresi tidak terbaca.

Jian buru-buru bangun dan membungkuk badan sambil memegangi sikunya. “Maafkan aku,” sesalnya sambil meringis. Bukan karena pantat atau tulang sikunya, tetapi karena dadanya mulai sesak. Ah, ia juga malu.

Pria asing bertubuh tinggi besar dan berwajah datar di hadapannya membalas dengan anggukan yang sangat tipis, hingga Jian ragu apakah kepala pria itu benar-benar bergerak. Merasa agak takut, Jian akhirnya memohon diri. Namun, saat ia baru berjalan dua langkah, pria itu memanggilnya.

“Kau tidak apa-apa? Kupikir aku menabrakmu terlalu keras tadi.” Suaranya memang terdengar datar, tapi Jian bisa melihat ada sinar kekhawatiran—ini mungkin hanya perasaan Jian saja—di matanya.

“Aku baik-baik saja,” kata Jian skeptis, karena ia mulai kesulitan bernapas. Seharusnya ia tidak berlarian seperti itu. Akhirnya ia mengangguk kecil sebelum berbalik dan benar-benar pergi sambil mengeluarkan inhaler dari saku jas sekolahnya.

 

 

***

 

 

“Kenapa tanganmu?” tanya Joon langsung dan meraih lengan Jian ketika gadis itu tiba di hadapannya.

“Menabrak orang! Ini akibat kau menyuruhku cepat-cepat,” gerutu Jian dengan wajah yang tampak sangat kesal.

Bukannya meminta maaf atau menunjukkan penyesalan, Joon justru tertawa sembari menasihatinya dengan nada sarkas, “Makanya kalau jalan pakai mata.”

Jian lekas menepis tangan Joon yang dengan santainya menekan kedua pipinya hingga bibirnya mengerucut menyerupai paruh ayam. “Dimana-mana yang namanya jalan pakai kaki, bukan mata!”

Masih tetap tertawa, Joon menyerahkan helm kepada Jian sambil bertanya, “Tapi kau baik-baik saja, kan?” Selintas suaranya terdengar khawatir.

Jian mengangguk, lalu mengunci pengait helmnya. Setelah memastikan gadis itu duduk dengan nyaman di boncengan, Joon segera menyalakan motornya dan melaju meninggalkan gedung sekolah.

 

 

***

 

 

Tidak berlama-lama, begitu mendapatkan buku yang dicari, Jian langsung membawanya ke kasir.

Lihat selengkapnya