SAMBIL menjinjing sekantung plastik penuh makanan ringan, Jian menyeret kakinya keluar dari toserba. Ia memang sengaja membeli banyak camilan hari ini untuk dibagikan kepada Mi-young. Ia sudah tidak sabar bertemu dengannya dan menanyakan banyak hal. Bahkan, ia berharap mereka bisa menjalin pertemanan yang baik setelah ini.
Ponsel di saku Jian berdenting. Pesan balasan dari Joon muncul di layar yang menyala.
Kujemput jam delapan.
Pagi tadi, saat Joon mengirimkan ucapan selamat lewat Kakao Talk, Jian meminta pergi ke Namsan Tower sebagai hadiah ulang tahun, dan sahabatnya itu langsung setuju. Sudah sejak lama mereka berencana pergi menikmati suasana malam di Seoul dari puncak menara, tetapi karena kesibukan Joon yang bekerja paruh waktu di dua tempat berbeda, rencana itu harus gagal berkali-kali.
“Jian?”
Langkah Jian terhenti seketika saat seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dan melihat pria tampan berwajah kebarat-baratan, berbadan tinggi besar, dan berpakaian formal menghampirinya. Selintas pria itu tampak tersenyum ketika pandangannya jatuh ke arah sepatu yang Jian kenakan.
Hari ini Jian memang sengaja memakai sepatu pemberian Mi-young. Ia ingin Mi-young tahu bahwa ia menyukai hadiahnya. Ia juga mengenakan jam tangan dan kaus yang di terimanya di tahun sebelumnya. Oh, ngomong-ngomong Jian harus segera kembali karena ayah bilang Mi-young akan menjemputnya di rumah. Ia tidak ingin dirinya belum sampai saat Mi-young tiba. Namun, orang ini tidak mungkin diabaikan. Tidak sopan sekali.
“Ahjussi[1] memanggilku?” pertanyaan Jian berhasil menarik perhatian pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya.
Mata sipit pria itu bergerak membalas tatapannya. Lalu sambil mengulas senyum kecil, ia balas bertanya, “Ada Jian lainnya di sini?”
Jian langsung merutuki kebodohannya. Pria ini jelas-jelas memanggil namanya, dan bahkan menghampirinya, jadi pertanyaan tadi benar-benar terasa konyol. Akhirnya ia mengganti pertanyaan dengan, “Ahjussi mengenalku?”
“Aku mengenal baik ayahmu, jadi tentu saja aku mengenalmu juga.” Pria itu tersenyum lagi. “Ryu Jian, kan?”
Jian mengiakan dengan anggukan kecil sambil otaknya berpikir-pikir. Apa iya ayahnya memiliki teman yang masih sangat muda dan—jika dilihat dari penampilannya—sepertinya dari keluarga kaya raya. Rasanya mustahil mengingat ia tidak pernah melihat pria ini datang berkunjung ke rumahnya seperti teman-teman ayahnya yang lain. Atau mungkin dirinya yang tidak pernah melihat pria ini datang? Entahlah.
Ketika Jian sibuk dengan pikirannya sendiri, pria di hadapannya tiba-tiba saja mengulurkan tangan. “Mikail Young. Kau bisa memanggilku Mikail—tanpa embel-embel Ahjussi.”
Mikail... Young.
Terdengar asing di telinga Jian. Seingatnya, ia tidak pernah mendengar nama itu disebut sebelumnya. Meski demikian, ia tetap membalas uluran tangan pria tinggi bernama lengkap Mikail Young itu sambil mengangguk kepala.
“Kita pernah bertemu di rumah duka tiga belas tahun yang lalu,” ujar Mikail sesaat setelah Jian melepaskan jabat tangan mereka.
Gadis itu mencoba mengingat-ingat siapa saja yang pernah ditemuinya di rumah duka saat itu—mungkin saat ibunya meninggal dunia karena asma akut. Namun, kejadian itu sudah lama sekali. Saat itu usianya baru enam tahun, jadi ia tidak ingat siapa saja yang pernah ditemuinya.
“Sepertinya kau sudah lupa,” gumam Mikail begitu melihat ekspresi wajah Jian yang berubah kecewa.
Gadis itu merasa tidak enak karena tidak berhasil mengingat pria ini. Ia menundukkan kepalanya meminta maaf.
“Ngomong-ngomong,” Jian sedikit ragu saat menanyakan ini. “Ada keperluan apa Ahjussi memanggilku?” Semoga Mikail tidak keberatan dengan panggilannya. Ini bukan Amerika. Jian tidak bisa sembarangan memanggil orang dewasa dengan namanya.
Nyatanya Mikail memang tidak mempermasalahkan. Ringan saja pria itu menjawab, “Aku ingin mengunjungi ayahmu dan kebetulan sekali melihat kau keluar dari sana,” sambil menunjuk toserba di belakang Jian. “Jadi kupikir sekalian saja kuantar kau pulang.”