The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #3

Iblis Bermuka Dua

JIAN mengangkat vas keramik setinggi telinga seraya mengeratkan cengkeraman ketika indranya menangkap bunyi kunci yang diputar. Napasnya tertahan menantikan pintu itu terbuka, jantungnya berdebar keras, dan matanya nyaris tidak berkedip.

Ketika akhirnya pintu mengayun terbuka dan Jian bersiap mengayunkan vas kepada siapa pun yang akan masuk, jeritan perempuan disusul bunyi barang pecah mengurungkan niatnya. Jian terkejut mendapati seorang wanita berdiri ketakutan di depannya. Wanita itu mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya yang tertunduk. Sepertinya wanita itu sangat terkejut saat Jian mengayunkan vas ke arahnya sehingga ia refleks melepaskan nampan untuk melindungi diri.

Jian melihat makanan yang dibawa wanita itu tumpah mengotori lantai. Wadah kacanya pecah dan sebagian isinya terburai mengenai sepatunya. Sesaat Jian merasa bersalah karena sudah menakuti wanita itu, tapi lekas tersadar dan bergegas pergi. Namun, entah dari mana datangnya, Mikail tiba-tiba saja muncul menghadang langkahnya. Demi Tuhan, jantungnya nyaris lepas.

“Jadi kau berniat memukul pelayanku dengan itu?” Mikail menatap berang vas keramik yang masih berada di tangan Jian.

“Aku mau pulang! Biarkan aku pergi!” seru Jian mengabaikan kemarahan itu.

“Kau tahu, barang yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan lagi. Itu tidak sopan nama—”

“Aku bukan barang, brengsek!” raung Jian murka. Tangannya terangkat mengayunkan vas ke wajah Mikail dengan sangat keras.

Vas itu pecah membentur lantai dan pecahannya terlempar ke mana-mana. Mikail meringis memegangi dahinya yang berdarah. Untuk sesaat ia tidak bisa melihat apa-apa karena pandangannya seketika menggelap. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sebelum Jian sadar dari apa yang baru saja dilakukannya, Mikail bergerak cepat mencengkeram lehernya dengan satu tangan. Ia mendesak tubuh Jian memasuki kamar hingga punggungnya membentur lemari pakaian.

“Lepas... kan! Sa... kit.” Jian berusaha melepaskan cengkeraman Mikail yang keras. Ia mulai kesulitan bernapas. Matanya berair disertai bibirnya yang mulai pucat. Namun, hal itu tak membuat Mikail sudi menunjukkan belas kasih. Kemarahan tampaknya sudah mengambil alih jiwanya hingga ia tidak sadar sudah berbuat terlalu jauh.

“Kau milikku, Ryu Jian!” tandas Mikail berang. Mata merahnya menatap tajam, seiring jemarinya yang semakin kencang mencengkeram leher Jian. “Camkan ini baik-baik di kepalamu. Kau milikku. Sekalipun kau tidak menginginkannya, kau tetaplah milikku dan aku tidak akan pernah melepaskan apa pun yang sudah menjadi milikku. Kau ingat itu!”

Mikail melepas cengkeramannya dengan satu sentakan tegas, membuat tubuh Jian yang kehabisan oksigen langsung ambruk ke lantai.

 

 

***

 

 

Will membawa kantong plastik yang ditemukannya di bawah kursi penumpang untuk dilaporkan kepada Mikail. Ketika orang yang hendak ditemuinya itu terlihat berjalan menuruni tangga, ia lekas mendekat.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanyanya dalam bahasa Jerman ketika melihat dahi Mikail yang berdarah.

“Bukan apa-apa,” jawab Mikail cepat dan menunjuk kantong plastik yang dibawa Will dengan dagunya. “Apa yang kau bawa?”

Will mengeluarkan salah satu isi kantong plastik dan menunjukkannya kepada Mikail. “Aku menemukan ini terjatuh di bawah kursi. Sepertinya milik gadis itu.”

Tabung plastik berwarna biru dengan corong di bagian bawahnya itu tampak familier. Mikail merasa pernah melihatnya beberapa kali, tapi ia enggan bersusah payah mengingatnya karena kepalanya mulai berdenyut pusing. Luka robek akibat hantaman keras tadi tampaknya cukup lebar. Darah terus merembes meskipun ia sudah menekan sumber pendarahan tersebut.

“Apa itu?” tanya Mikail sambil lalu. Ia harus segera menyudahi percakapan ini dan mengobati lukanya kalau tak ingin bertambah parah. Namun, jawaban Will seketika saja membuatnya lupa pada sakitnya. Ia panik dan takut sekaligus.

“Obat asma. Aku pernah melihatnya di film. Kalau tidak salah namanya....” Will yang belum selesai bicara terkejut ketika Mikail tiba-tiba menyambar tabung plastik dari tangannya dan berlari menaiki tangga.

Lihat selengkapnya