“IMO-NIM[1].” Jian memanjangkan lehernya, memanggil wanita—memasuki usia akhir kepala empat—berseragam pelayan yang tengah menyusun pakaian baru ke dalam lemari.
Imo-nim menghentikan kegiatannya dan menoleh, lalu memutar badannya menghadap Jian yang duduk di tepi ranjang mengamati pekerjaannya. Ia tersenyum kaku.
“Agassi[2] butuh sesuatu?” tanyanya berusaha menutupi kegugupannya. Ia masih ingat bagaimana Jian mengayunkan vas keramik ke arahnya dengan tatapan membunuh.
“Maafkan aku soal semalam,” potong Jian cepat sebelum pelayan itu melangkah lebih jauh. “Aku tidak bermaksud menyakiti Imo-nim.”
Imo-nim tertegun sejenak, lalu embusan napas lega keluar dari bibirnya. Senyumnya kini tampak lebih tulus. “Tidak apa-apa, Agassi. Saya mengerti. Siapa pun pasti akan bereaksi begitu jika berada di posisi Agassi.” Ia mendekat sedikit, suaranya merendah. “Sejujurnya saya juga terkejut. Daepyo-nim[3] tidak pernah membawa wanita luar ke sini, apalagi dengan cara... seperti itu. Biasanya Daepyo-nim adalah orang yang sangat tenang dan terkendali. Saya tidak tahu apa yang membuatnya berubah begitu impulsif.”
Jian terdiam. Kalimat “tidak pernah membawa wanita luar ke sini” berdenging di telinganya, menciptakan rasa sesak yang aneh di dada. Ada kilasan ingatan tentang cengkeraman tangan pria itu yang kuat dan tatapan matanya yang tidak terbaca—sebuah impulsivitas yang justru menjadikannya korban.
Jika pria itu biasanya tenang dan terkendali, lalu apa yang salah dengan dirinya? Mengapa ia harus menjadi pengecualian bagi ketenangan pria itu? Alih-alih merasa spesial, Jian justru merasa terancam. Informasi ini menegaskan bahwa tempat ia berada sekarang bukanlah sekadar rumah, melainkan benteng isolasi yang asing.
Jian meremas ujung pakaiannya, mencoba menormalkan detak jantungnya yang mendadak kencang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa semalam ada yang berkunjung ke rumah ini?” tanya Jian serius. Ia memerhatikan wanita di hadapannya yang kini mengerutkan dahi. Agak terkejut dengan arah percakapan yang berubah.
“Maksudku... tamu dari luar,” sambung Jian cepat. Matanya menatap tajam mencari celah harapan untuk melarikan diri atau setidaknya mencari bantuan.
“Tidak ada, Agassi.” Imo-nim menggeleng.
Apa polisi tidak berhasil melacak ponselnya? Jian menunduk kecewa. Kemudian menoleh ketika mendengar wanita itu bertanya, “Ada lagi yang Agassi butuhkan?”
Jian berpikir sejenak sebelum berkata, “Aku ingin bicara dengan Mikail Ahjussi. Bisa Imo-nim sampaikan padanya?”
“Tentu saja. Akan saya sampaikan pada Daepyo-nim.” Imo-nim membungkuk badan, lalu menutup lemari dan membungkuk lagi.
Jian melihat imo-nim berjalan ke pintu kamar dan membukanya. Namun, tiba-tiba berbalik ke arahnya dengan senyum tersungging. Jian menunggu wanita itu mengatakan sesuatu.
“Oh ya, selagi saya menemui Daepyo-nim, Agassi bisa menunggu sambil menikmati sarapan.” Imo-nim akhirnya meninggalkan ruangan—tidak lupa mengunci pintu dari luar—setelah mengangguk dengan sopan.
Jian melirik nampan di atas nakas samping tempat tidur dengan tatapan lapar. Sejak bertemu dengan Mikail semalam siang, ia belum sempat makan sama sekali dan sekarang perutnya terasa perih karena lapar. Mungkin tidak apa-apa jika mencoba sedikit, pikirnya.
Air liurnya hampir menetes saat menghirup aroma sosis bakar bersaus mayones di piring porselen itu. Jian melihat pintu dengan waspada, lalu menyantap sepotong sosis yang membuatnya hampir pingsan saking lezatnya. Sayang sekali ia tidak bisa menikmati sosis bakar itu karena harus menelannya dengan cepat. Ia tidak ingin Mikail memergoki dirinya menikmati pemberiannya dan merasa puas.
Jian baru akan mengambil sepotong lagi ketika pintu tiba-tiba terbuka dan pria yang semalam menggendongnya muncul dengan ekspresi datar seperti biasa. Jian buru-buru menarik tangannya dan memalingkan muka. Serentak pula menghentikan kegiatannya mengunyah sosis. Sial! Ia belum sempat minum.
“Mikail menunggumu di bawah.” Pria berwajah datar itu menjulurkan tangan, mempersilakan Jian berjalan lebih dulu.
Jian menurut. Ia keluar lebih dulu dari kamar sekapnya yang mewah, lalu menunggu si datar memimpin jalan. Pria itu membawanya menuruni tangga, berjalan melewati beberapa ruangan, dan berakhir memasuki ruangan bersekat kaca yang dipenuhi dengan berbagai alat olahraga.
Mikail yang sedang berlari di atas treadmil segera turun dan menghampiri Jian. Ia mengulurkan satu tangannya hendak menyentuh bibir Jian, namun gadis itu sigap membuang muka seraya mundur satu langkah.