The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #5

Tidak Ada Tempat untuk Sembunyi

JIAN menutup ponselnya dengan sedih. Lagi-lagi ayahnya tidak menjawab. Padahal sejak tiba di pulau ini pada dua jam yang lalu, ia sudah berkali-kali menghubungi sang ayah, tapi tetap tidak ada balasan. Apa terjadi sesuatu pada ayah? Kenapa tidak menjawab teleponnya atau menghubungi kembali? Apa ayahnya tidak khawatir, padahal sudah dua hari ini ia tidak pulang? Oh, memikirkan itu membuatnya hampir menangis.

Jian memang tidak pulang ke rumah mengingat Mikail pernah berkata bahwa dia dan ayahnya berteman baik. Ia khawatir Mikail akan mencarinya ke sana. Karena itulah Joon membawanya ke Pulau Sindo ini. Sebuah pulau yang terletak di lepas pantai Incheon.

Rencananya mereka akan beristirahat sebentar di sini, di Pantai Sugi yang lengang dari wisatawan ketika mereka tiba. Mereka akan menumpang bermalam di rumah teman Joon di kampung pecinan. Dan kalau memungkinkan, mereka bisa pergi ke Desa Dongeng di Songwol-dong sebagai ganti traktiran ke Namsan Tower yang gagal pada keesokan harinya.

“Masih belum tersambung?” tanya Joon saat melihat Jian yang berwajah murung itu bergabung dengannya untuk membakar ikan yang dibeli dari nelayan setempat. Ia juga membeli nasi instan dan rumput laut kering di toserba dekat sana untuk makan malam mereka.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala sambil memeluk diri. Beruntung Joon membelikan jaket dan celana olahraga yang cukup hangat untuknya. Kalau tidak, angin laut yang dingin akan membuatnya membeku.

“Mungkin ayahmu sedang sibuk. Nanti dia pasti akan menghubungi kembali.” Joon mencoba meyakinkan meski ia sendiri merasa ragu. Ia mengambil ikan yang sudah matang dan meletakkannya di mangkuk nasi Jian. “Sekarang kau makan dulu. Sejak tadi kau belum makan.”

Jian menghela napas. Ia mengambil sumpit kayu dan menyantap makanannya tanpa gairah. Joon memandanginya dengan iba.

“Jian,” panggil Joon pelan dan menatap mata Jian lurus-lurus. “Kau dan ayahmu akan baik-baik saja. Setelah ini—sudah sejak semalam aku ingin melakukannya—kita akan lapor polisi.”

“Sudah kulakukan,” jawab Jian membuat Joon terperanjat. “Sebelum kau menghubungiku, aku menghubungi polisi lebih dulu. Aku bahkan meminta mereka agar melacak ponselku.”

Joon mengernyit ketika Jian mendadak berhenti bicara. Gadis itu merenung, seolah memikirkan sesuatu yang rumit.

“Tapi sampai pagi tadi tidak ada petugas polisi yang datang—itu yang kudengar dari pelayan rumah Mikail.” Jian menoleh menatap Joon yang sama bingungnya. “Apa mereka tidak berhasil melacak ponselku, ya?”

“Coba kulihat.”

Jian menyerahkan ponselnya ketika Joon menadahkan tangan ke arahnya.

“Bagaimana mungkin polisi tidak berhasil melacak ponsel,” gumam Joon sambil memeriksa ponsel Jian yang tidak diberi akses pola. Selintas ia mengerutkan dahi, lalu terkesiap pelan.

“Oh, semoga ini tidak benar.”

Jian bisa merasakan jantungnya berdebar keras ketika Joon berkata begitu sambil menatapnya.

“Kau disadap. Maksudku, ponselmu sedang dipantau.”

Tiba-tiba terdengar bunyi decit yang keras tak jauh dari tempat mereka duduk. Keduanya serentak menoleh dengan wajah tegang ketakutan. Seorang pemuda berpakaian mantel panjang dan topi trucker keluar dari mobil dengan terburu-buru.

Jian mengurut dada sambil mengembuskan napas lega ketika wanita muda dengan penampilan agak kacau dipapah keluar oleh pemuda tadi. Rupanya wanita itu mabuk berat dan kini tengah muntah.

Jian kembali menatap depan dan mendapati Joon sama leganya dengan dirinya. Mereka berdua saling melempar senyum geli setengah malu. Kemudian melanjutkan makan malam ditemani desau angin yang semakin dingin.

“Joon,” panggil Jian tiba-tiba memecah keheningan. Selintas ekspresinya tampak seperti tengah memikirkan sesuatu. “Kau menemaniku seperti ini, pekerjaanmu bagaimana?”

Joon yang seolah mengerti kegundahan sahabatnya itu lekas menelan makanannya dan menjawab, “Kau tidak perlu cemas. Aku sudah mengambil cuti tiga hari.” Kemudian sambil tersenyum lebar ia menambahkan, “Tidak akan dipecat.”

Bukannya terhibur, wajah Jian justru terlihat murung. “Maaf jadi merepotkan,” gumamnya menyesal.

“Bilang begitu lagi akan kusentil dahimu,” ancam Joon sebal sambil membuat gerakan menyentil yang keras. Kemudian menyuapkan nasi dalam ukuran besar hingga pipinya menggembung.

Akhirnya Jian bisa tersenyum sedikit. Ketika hendak memasukkan satu suapan besar ke mulutnya, ia memandang melewati bahu Joon. Saat itulah ia melihat pria berbadan tinggi besar keluar dari mobil disusul pria lainnya. Ketika mengenali mereka sebagai orang itu, senyumnya seketika lenyap. Jantungnya kembali berdebar keras dan segenap ketakutan langsung menyerangnya. Jian menjatuhkan mangkuk nasinya tanpa sadar dan itu membuat Joon menatap heran.

“Ayo pergi dari sini.”

Lihat selengkapnya