The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #6

Kendali Tanpa Belas Kasih

PUTIH. Hanya itu yang dilihatnya ketika membuka mata. Jian mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu. Matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, dan kepalanya sakit. Pun dengan sekujur tubuhnya. Dimana ia? Apakah di rumah sakit?

“Syukurlah kau sudah sadar.”

Jian menoleh ke asal suara dan pandangannya langsung bertemu dengan Mikail yang duduk di tepi ranjang. Merunduk ke arahnya. Menatapnya dengan wajah cemas bercampur lega.

Sambil bertumpu pada kedua tangan, Jian mencoba untuk duduk, dan Mikail pun sigap membantunya.

“Kepalamu sakit?” tanya Mikail lembut ketika melihat Jian mengernyit memegangi kepalanya.

Gadis itu melihat lengan Mikail yang menggenggamnya—ternyata terbalut perban hingga ke siku. Ia baru menyadari bahwa pria itu juga terluka di beberapa bagian tubuh yang lain.

Jian, awas!

Bayangan saat Mikail memeluknya semalam langsung menghujam benak Jian. Seiring rasa sesak yang muncul, ingatannya terlempar jauh ke belakang. Menarik mundur kepingan memori yang sempat ia lupakan.

“Joon.” Seketika itu ekspresi wajah Jian berubah cemas. Teringat bagaimana Will memukuli sahabatnya itu tanpa ampun. Pun ketika Mikail menendang dan menginjak wajahnya.

Jian menatap Mikail yang begitu dekat dengannya dengan wajah cemas. “Ahjussi membawa Joon ke rumah sakit, kan? Bagaimana kondisinya?”

Mikail jelas tidak suka melihat bagaimana Jian begitu mengkhawatirkan laki-laki itu. “Kau masih sempat-sempatnya mencemaskan keadaan orang lain?” tanyanya tak habis pikir. Matanya berkilat-kilat marah. Rahangnya mengetat. Ia merasa panas karena cemburu.

Mengabaikan kemarahan Mikail, Jian memeluk lengan pria itu dengan kedua tangannya sambil mendesak panik. “Katakan, Ahjussi. Bagaimana kondisi Joon? Apa dia dirawat di sini? Aku mau melihat....”

“Jian, cukup!” sentak Mikail meradang. Serentak menepis tangan Jian seraya berdiri. “Apa kau tidak sadar tindakanmu semalam sangat berbahaya?!” Suaranya meninggi. Kontan membuat Jian langsung mengatupkan bibirnya.

Gadis itu meringis ketika Mikail tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan keras. Tubuhnya masih nyeri di beberapa bagian, namun Mikail sudah terlanjur marah. Ia tidak peduli dengan rintihan Jian yang kesakitan.

“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Jian. Kau akan mendapati bangkai Park Joon kalau berani melakukannya lagi.”

Kali ini Mikail tidak mendorong tubuh Jian seperti waktu itu karena sadar gadis itu masih sakit. Ia keluar dari kamar rawat itu dengan langkah lebar dan membanting pintu di belakangnya.

 

 

***

 

 

Siang itu Will datang membawakan pakaian ganti Mikail. Ia juga menyerahkan dua ponsel baru dengan tipe yang sama.

Selama interaksi itu, Jian tak mendapati Will menoleh ke arahnya barang sekali. Bahkan melirik pun tidak. Seolah Jian memang tidak ada di sana. Will tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah. Pria itu sudah kehilangan nurani. Sama seperti tuannya.

“Sudah kau kosongkan jadwalku untuk minggu ini?” Mikail menanggalkan kemejanya di hadapan Jian yang serentak memalingkan wajah. Mengganti pakaiannya dengan gerakan cepat.

Will mengiakan. “Orang dari perusahaan I.M sempat keberatan, tapi aku sudah mengurusnya.”

“Bagus. Kau boleh pergi.”

Will langsung beranjak tanpa membungkuk sebagaimana kebiasaan orang Korea, namun Mikail tidak mempermasalahkannya.

Pria itu duduk di sofa seberang ranjang Jian. Persis menghadapnya. Sejenak memeriksa ponsel pemberian Will tadi, lalu bangkit dan berjalan menuju Jian.

Gadis itu langsung membuang muka ketika Mikail menyodorkan satu ponsel kepadanya seraya berkata, “Gunakan dengan baik.”

Jian tahu itu ponsel mahal. Keluaran terbaru. Namun, ia tidak tertarik. Apa Mikail pikir Jian akan luluh oleh satu unit ponsel? Maaf sekali, Jian bukan perempuan mata duitan.

Karena Jian tak kunjung menerima, Mikail menjadi kesal. Ia melempar ponsel itu ke pangkuan Jian. “Tekan satu untuk menghubungiku, dan dua untuk Will.” Berjalan ke sofa. “Jangan coba-coba menghubungi Joon atau kau akan menyesal.”

Lihat selengkapnya