The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #7

Topeng yang Retak

“OH, Agassi sudah bangun?” Seorang pelayan muncul di ambang pintu tepat saat Jian sedang mencoba bangkit dari tempat tidur. Nampan di tangannya segera diletakkan di atas meja nakas, lalu dengan sigap ia membantu Jian duduk bersandar dengan nyaman.

“Saya panggilkan Daepyo-nim sebentar.” Ia hendak buru-buru beranjak, tetapi Jian lekas menghentikan.

“Aku ingin istirahat, Imo-nim,” gumam Jian. Suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.

Bayangan sepatu pantofel Mikail yang mengkilap di depan wajahnya kembali melintas. Seketika memicu amarah yang membuat napasnya memburu pendek.

Ia tidak sudi melihat wajah itu. Tidak setelah Mikail dengan begitu santai memutar-mutar inhaler miliknya seolah benda itu hanyalah mainan, sementara Jian sedang bertaruh nyawa. Pria itu sengaja menontonnya sekarat, menikmati setiap detik penderitaannya, dan menanti Jian merangkak di kakinya seperti binatang.

Memohonlah padaku.

Suara dingin itu masih terngiang jelas, membuat Jian merasa mual sekaligus murka. Baginya Mikail bukan sekadar kejam, pria itu sakit. Mengizinkannya masuk sekarang hanya akan memberi Mikail kepuasan lebih untuk melihat betapa hancurnya Jian.

“Tapi Daepyo-nim bilang....”

“Katakan saja aku belum bangun.” Jian berusaha tersenyum dan melihat imo-nim menundukkan kepala dengan patuh.

“Baiklah. Jika Agassi butuh sesuatu....”

Jian lekas mengangguk. Ia akan memanggil pelayan itu jika membutuhkan sesuatu, kan? Tapi ia tidak butuh apa pun saat ini. Kalau pun ada, ia hanya butuh mencari tahu kabar Joon. Ia tidak bisa berhenti memikirkan sahabatnya itu, juga ayahnya yang masih belum bisa dihubungi.

Bunyi pintu yang dibuka menarik perhatian Jian. Ia melihat imo-nim hendak pergi. Lantas sebelum terlambat, ia cepat-cepat memanggil. Pelayan itu menoleh. Kembali menutup pintu tanpa menguncinya dan bergegas datang.

“Boleh aku pinjam ponsel Imo-nim?” tanya Jian langsung dan melihat pelayan itu agak terkejut. “Aku butuh menghubungi seseorang.”

“Tapi Agassi....” Imo-nim tampak keberatan.

“Tolonglah.” Jian menangkupkan tangan dengan lirih. “Hanya Imo-nim yang bisa membantuku di sini.”

Pelayan itu jadi tidak tega. Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya meminjamkan ponselnya meski dengan berat hati. “Tapi Agassi harus bergegas ya. Kalau Daepyo-nim tahu, saya akan dapat masalah."

Jian mengangguk. Berterima kasih sekalian. Ia segera menghubungi nomor Joon, tetapi nomor itu tidak aktif. Begitu pun dengan nomor ayahnya.

Jadi sudah tidak ada harapan, ya? Jian menunduk sedih. Lalu ia melihat pelayan itu masih berdiri di sana dengan gugup. Pandangannya bergantian dari Jian yang masih duduk di ranjang dan daun pintu yang tertutup rapat. Berjaga-jaga agar bisa sigap menarik ponselnya jika seseorang tiba-tiba masuk.

“Boleh aku mengakses internet?” tanya Jian mengejutkan pelayan itu, yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan.

Jian menuliskan nama Mikail Young di mesin pencarian. Mikail sepertinya orang terkenal. Ia mungkin bisa mendapatkan informasi tentangnya di sini. Dan benar saja. Ada banyak artikel yang membahas karier hingga kehidupan pribadi pria itu. Yang terbaru adalah kunjungannya ke Rumah Abu, tempat ia menyimpan abu orang tuanya. Jadi Mikail yatim piatu. Kasihan juga.

Jian terlalu larut membaca berita itu hingga tidak menyadari kehadiran Mikail. Pria itu rupanya telah memberi isyarat kepada pelayan agar tetap diam saat ia masuk. Jian baru tersadar ketika Mikail menarik ponsel dari tangannya dan melihat apa yang dibacanya.

“Mulai tertarik padaku?” Mikail tersenyum miring. Mengabaikan Jian yang membuang muka, ia mengambil duduk di tepi ranjang usai mengembalikan ponsel si pelayan dan menyuruhnya pergi dengan isyarat.

“Kau bisa bertanya langsung padaku jika ingin tahu,” kata Mikail sambil menatap Jian yang tak sudi melihatnya. “Aku pasti akan menceritakan semuanya.”

“Dan aku hanya akan mendengar kebohongan,” balas Jian sambil menatapnya tajam.

Namun, Mikail tampak tidak senang dengan jawaban itu. Pria itu meraih mangkuk bubur dari atas nakas. Mengabaikan sindiran Jian.

“Di mana Joon?” Pertanyaan Jian menghentikan gerakan tangan Mikail yang sedang mengaduk bubur.

“Ahjussi?” desaknya pelan.

Lihat selengkapnya