The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #8

Bukan Melepaskan

PINTU kamar bergeser dengan suara halus, memecah keheningan ruangan yang pengap. Mikail melangkah masuk dengan tenang, membawa secangkir teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja belajar Jian yang penuh dengan buku-buku sekolahnya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan tempat tidur.

Di sana, Jian duduk bersandar pada tumpuan bantal dengan kaki terjulur lemas. Ia tampak begitu rapuh dalam balutan selimut tebal. Tangan kirinya terhubung dengan selang infus, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat sebuah inhaler yang baru saja ia gunakan.

Mikail menatap benda di tangan Jian, lalu menarik napas panjang. Ada gurat kasihan yang terselip di balik tatapan dinginnya.

“Kalau yang kau inginkan adalah kebebasan, bukankah sudah kuberikan saat kau memintanya?” suara Mikail memecah kesunyian, rendah namun tajam. “Tapi kau merusaknya, Jian.”

Jian tetap diam, matanya menatap kosong ke arah selimut.

“Tapi tentu, aku akan tetap memberimu kebebasan. Lagi pula, dari awal aku tidak berniat mengekangmu,” lanjut Mikail.

Mendengar itu, ekspresi Jian berubah. Kilat harapan muncul di matanya, sebuah gurat kebahagiaan kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Namun, Mikail segera menangkap perubahan itu dan tidak ingin gadis itu salah paham.

“Hanya memberimu kebebasan, bukan melepaskanmu.”

Seketika binar di mata Jian padam. Bahunya merosot. Ia sadar telah salah mengira. Harapan bahwa ia akan benar-benar bebas dari jangkauan pria itu hancur berantakan.

“Kau akan tinggal bersamaku selamanya, seperti yang dijanjikan.”

Jian mengernyit. Kalimat itu terngiang di kepalanya. Dijanjikan? Ia bertanya-tanya dalam hati janji apa yang dimaksud Mikail? Siapa yang menjanjikan itu padanya? Nama ayahnya sekilas terlintas di pikirannya, mungkinkah ini ada hubungannya?

Sementara Jian masih bergelut dengan pikirannya sendiri, Mikail kembali melanjutkan. “Jadi berhentilah bersikap impulsif, Jian. Karena apa pun yang kau rencanakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Mikail berdiri, memutar tubuhnya hendak meninggalkan kamar. Namun sebelum ia melangkah jauh, suara serak Jian menghentikannya.

“Aku akan menurut.”

Mikail berbalik sepenuhnya, menatap Jian dengan tatapan menelisik, mencari tahu apakah ini hanya siasat atau kepasrahan murni.

“Tapi aku punya permintaan,” lanjut Jian. Menatap Mikail penuh harap.

Mikail tidak langsung menjawab. Ia menelisik mata Jian dalam-dalam, mencoba mencari tahu apakah ada rencana tersembunyi di balik ketundukan itu. “Apa?” tanyanya singkat.

“Aku ingin bertemu dengan ayahku. Ada yang ingin kuketahui langsung darinya,” Jian menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan, “Dan juga Joon... aku perlu tahu keadaannya.”

Mikail menyunggingkan senyum tipis yang dingin. “Pilih satu, Jian. Aku tidak mengabulkan dua permintaan sekaligus.”

Lihat selengkapnya