AROMA teh gandum yang hangat menguar di antara tumpukan dokumen di meja guru kelas 3-3. Di ruang guru yang tenang itu, suasana terasa berat bagi Jian. Ia duduk di kursi kayu yang keras. Berusaha menyembunyikan wajah pucatnya.
Si guru kelas memulai pembicaraan sambil menatap layar komputer yang menampilkan grafik kehadiran. “Ibu memanggilmu karena khawatir. Kau adalah murid peringkat atas di sekolah ini. Tapi kalau kehadiranmu terus seperti ini, poin kedisiplinanmu bisa jatuh. Kau tahu kan, jalur masuk universitas kedokteran sangat kompetitif?”
Gurunya mencondongkan tubuh, tatapannya penuh empati khas seorang guru senior yang sangat peduli pada masa depan muridnya. “Apa mungkin kau sedang ada masalah di rumah? Kalau tidak keberatan, kau bisa memberitahu ibu. Di usia belajarmu ini, beban pikiran bisa jadi racun.”
Jian merasakan nyeri yang luar biasa melilit perut bawahnya. Kram haid hari pertama itu terasa seperti diremas-remas. Membuatnya sulit bernapas lega. Ia meremas rok seragamnya dengan tangan yang mulai dingin.
“Ya, Bu. Ada sedikit masalah yang harus saya urus di rumah,” jawab Jian dengan suara bergetar, berusaha tetap sopan. “Sepertinya saya jadi tidak sempat belajar dengan maksimal karena itu. Maafkan saya. Mulai hari ini saya akan belajar lebih giat lagi, bahkan sampai waktu yaja[1] berakhir, saya akan mengejar ketertinggalan.”
Si guru kelas menghela napas, raut wajahnya melunak. “Ibu mengerti setiap keluarga punya badainya masing-masing. Tapi Jian, jangan biarkan badai itu menenggelamkan mimpimu. Kau punya potensi besar. Ibu memegang janjimu untuk kembali fokus, ya?”
Ia kemudian menarik laci mejanya yang terkunci. Mengeluarkan sebuah map berwarna emas dengan logo bergengsi di depannya.
“Ibu ingin memberikan ini padamu lebih awal,” ucap gurunya sambil menyodorkan berkas tersebut. “Ini informasi beasiswa jalur prestasi untuk fakultas kedokteran Universitas Nasional Seoul. Selain SNU, Ibu juga merekomendasikanmu untuk mempertimbangkan Universitas Yonsei atau Universitas Sungkyunkwan yang bekerja sama dengan Samsung Medical Center.”
Mata Jian yang sayu sedikit berbinar melihat logo SNU di map tersebut.
“Pelajari persyaratannya, ya. Nanti ibu akan membantumu menyusun surat pernyataan diri. Jangan menyerah hanya karena masalah sementara.”
“Terima kasih banyak, Bu. Saya sangat menghargainya,” jawab Jian sambil membungkuk dalam.
Setelah berkata begitu, Jian izin undur diri. Ia bangkit perlahan. Rasa sakit di perutnya tiba-tiba menghunjam lagi, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Dengan satu tangan mendekap erat map beasiswa SNU di perutnya, Jian melangkah keluar. Ia menyusuri koridor panjang sekolah dengan langkah kecil dan wajah yang meringis menahan nyeri. Meninggalkan ruang guru menuju ruang kesehatan. Ia butuh penanganan medis sekarang.
***
“Sejak pulang sekolah, Agassi sama sekali tidak meninggalkan kamarnya, Daepyo-nim.”
Mikail menghentikan langkah. Keningnya berkerut dalam mendengar laporan pelayan muda itu. Memori tentang wajah pucat Jian pagi tadi kembali terlintas. Benarkah dugaannya bahwa gadis itu memang sedang tidak baik-baik saja?
“Sudah kau periksa ke dalam?” tanya Mikail. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
Sebelum pelayan itu sempat menjawab, Will menyela dengan suara datar, “Dia terlihat tidak sehat saat turun dari mobil siang tadi.”
Pelayan muda itu mengangguk cepat. Mengonfirmasi kekhawatiran yang mulai membuncah di dada Mikail. Tanpa membuang waktu, Mikail mempercepat langkahnya menuju kamar Jian.
Suasana di dalam kamar itu mencekam, seolah oksigen di sana tersedot habis oleh kegelapan total. Mikail mendorong pintu lebar-lebar. Membiarkan cahaya lampu koridor menyeruak masuk dan membelah kepekatan ruangan. Pendengarannya yang tajam segera menangkap suara rintihan halus dari arah ranjang.
Mikail mendekat. Sosoknya membayang di bawah pendar lampu yang minim. Di sana, Jian meringkuk dalam posisi janin. Tangannya mendekap perut dengan erat, seolah berusaha menahan sesuatu yang hancur di dalam sana.
Mikail duduk di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pundak Jian dengan gerakan hati-hati. “Jian? Kau kenapa?”