The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #10

Langkah Senyap

MALAM kian larut, tetapi suasana di dalam salah satu kafe di daerah itu terasa kontras dengan udara dingin yang menggigit di luar. Aroma biji kopi panggang dan kayu ek memenuhi ruangan. Ayah Jian duduk di sudut paling remang. Menggenggam cangkir teh chamomile yang sudah mendingin. Matanya terus tertuju pada pintu masuk. Berharap sosok putri yang sangat dirindukannya akan muncul di balik lonceng pintu yang berdenting.

Namun, ketika pintu terbuka, yang melangkah masuk bukanlah Jian. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi dan ekspresi wajah yang sulit dibaca berjalan lurus ke arahnya.

“Ryu Seonsaengnim[1]?”

Ayah Jian mendongak. Bahunya yang sempat tegap perlahan merosot saat menyadari sosok di depannya adalah asisten Mikail. Sorot matanya yang penuh harap berubah menjadi kabut kekecewaan yang nyata.

“Di mana Jian?” Suaranya parau. Menyiratkan kecemasan yang sudah lama dipendam.

“Daepyo-nim mengirimku ke sini untuk menyampaikan permohonan maaf pada Anda. Jian tidak bisa datang karena sakit.”

Mendengar kata sakit, Ayah Jian langsung berdiri dari kursinya. Kursi kayu itu berderit keras di atas lantai marmer. “Jian sakit? Apa asmanya kambuh?”

“Bukan. Dokter bilang itu nyeri haid.”

Langkah Ayah Jian terhenti. Kegelisahan masih tampak jelas di wajahnya yang mulai menua. Ia meremas jemarinya sendiri. Membayangkan putrinya kesakitan tanpa dirinya di sampingnya. Menyadari kecemasan pria di hadapannya, Will—yang meski tampak datar tapi sangat peka terhadap situasi—sedikit melunakkan nada suaranya.

“Anda tidak perlu khawatir, Seonsaengnim. Dokter sudah memberinya pereda nyeri, dan Daepyo-nim sedang merawatnya saat ini.”

Mendengar nama Mikail disebut sebagai orang yang menjaga Jian, ketegangan di bahu Ayah Jian sedikit mengendur. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Ada rasa lega, meski terselip sedikit rasa getir karena posisi yang seharusnya miliknya kini diisi orang lain.

“Daepyo-nim akan mengatur pertemuan Anda di lain waktu. Sekarang aku akan mengantar Anda pulang.”

Ayah Jian memaksakan sebuah senyum canggung. Mencoba tetap sopan meski hatinya masih tertinggal pada kondisi Jian. “Ah, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri dengan bus.”

“Daepyo-nim ingin memastikan Anda tiba di rumah dengan selamat. Ini adalah perintah langsung.”

Will mengulurkan tangannya. Mempersilakan dengan gestur yang tegas namun penuh hormat. Ayah Jian terdiam sejenak. Menyadari bahwa menolak pun tidak akan mengubah keputusan asisten yang efisien ini. Dengan langkah berat, ia mengikuti Will menuju mobil hitam yang sudah menunggu di luar.

 

 

***

 

Lihat selengkapnya