The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #11

Jangkar yang Patah

“DI rumah ayahmu?”

Suara berat Mikail memecah keheningan ruangan. Matanya masih terpaku pada lembar-lembar laporan analisis risiko investasi dari Daehan Ventures, perusahaan modal ventura yang ia pimpin. Di belakangnya, Will berdiri tegak dengan sikap siaga yang sempurna, seperti bayangan yang tak terpisahkan.

Jian berdiri tepat di depan meja kayu ek besar milik Mikail. Gadis itu sudah lebih rapi dengan sweter rajut berwarna krem yang memberikan kesan lembut namun tertutup. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Aku sekalian mau mengambil dokumen untuk keperluan beasiswaku,” ucap Jian tenang.

Mikail akhirnya mendongak. Ia meletakkan pena mahalnya di atas meja, lalu menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. “Beasiswa?”

Jian kembali mengangguk tipis. Gerakannya hemat, seolah sedang menyimpan oksigen di paru-parunya agar tidak terbuang sia-sia.

“Beasiswa apa?” tanya Mikail lagi. Intonasinya datar namun menuntut jawaban pasti.

Jian tidak segera menyahut. Ia hanya berdiri membisu. Menatap Mikail dengan binar mata yang sulit dibaca. Keheningan itu merambat di antara mereka. Membuat suasana terasa semakin pekat.

“Ryu Jian?” desak Mikail, menyebut nama lengkap gadis itu dengan penekanan yang memperingatkan.

Jian menarik napas pendek, lalu menyahut dengan nada yang sedikit lebih tajam, “Itu bukan urusan Ahjussi.”

Mikail terdiam. Ia tidak terlihat marah, namun matanya menyipit. Menatap Jian seolah sedang membedah sebuah laporan bisnis yang rumit. Ada jeda panjang saat Mikail menimbang-nimbang permintaan Jian—memikirkan risiko, konsekuensi, dan mungkin, sedikit rasa iba yang ia tekan dalam-dalam.

“Baiklah,” ucap Mikail singkat pada akhirnya.

Tanpa sepatah kata pamit atau ucapan terima kasih, Jian berbalik. Langkah kakinya terdengar ringan namun pasti saat ia meninggalkan ruang kerja Mikail. Meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti sang CEO dan asisten setianya.

 

 

***

 

 

“Cari tahu beasiswa apa yang sedang Jian siapkan.”

Mikail memberikan perintah itu tanpa menoleh. Matanya kembali tertuju pada angka-angka di atas meja. Will segera maju mendekat. Mengangguk patuh dengan efisiensi yang sudah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.

Lihat selengkapnya