The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #12

Langkah yang Tak Sampai

PAGI itu, suasananya terasa berbeda. Jian melangkah turun ke ruang makan dengan seragam sekolah yang rapi dan ransel tersampir di punggungnya. Sepatu sekolahnya sesekali mengeluarkan bunyi ketukan di atas lantai marmer, namun suara itu terasa menggema terlalu keras di dalam rumah yang mendadak sunyi.

Ia mengernyit. Bertanya-tanya mengapa kondisi rumah begitu lengang. Kebingungannya bertambah saat mencapai meja makan. Biasanya Mikail sudah duduk di sana sambil membaca laporan perusahaannya bersama Will yang duduk di dekatnya. Namun pagi ini, meski meja makan sudah tersaji sarapan lengkap yang mengepul hangat, kursi-kursi itu kosong.

Jian yang merasa heran akhirnya menarik kursi dan duduk di tempat biasanya. Tak lama, seorang pelayan muda yang biasa melayaninya datang mendekat, meletakkan secangkir susu putih hangat di samping piringnya.

“Imo-nim, ke mana perginya semua orang?” tanya Jian sambil menatap kursi kosong di ujung meja.

Pelayan itu sempat terdiam sejenak sebelum menjawab. “Daepyo-nim dan Will-ssi [1]ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, Agassi.”

Imo-nim kemudian merogoh kantong apronnya dan mengeluarkan sebuah kartu bus. “Karena Will-ssi tidak bisa mengantar dan menjemput Agassi hari ini, jadi Daepyo-nim menitipkan ini,” ucapnya sambil menyerahkan kartu itu kepada Jian. “Daepyo-nim juga berpesan agar Agassi pulang tepat waktu.”

Jian menerima kartu itu dengan kening berkerut. Pikirannya langsung tertuju pada rencana pertemuan mereka. Ia berasumsi bahwa kesibukan Mikail dan Will pagi ini adalah persiapan untuk pergi ke rumah ayahnya malam nanti. Mungkin mereka sedang mengatur jadwal agar bisa berangkat bersama-sama.

“Begitu ya. Baiklah, terima kasih, Imo-nim,” jawab Jian pelan sembari mengangguk.

Ia menyesap susunya. Tidak menyadari bahwa di balik pesan ‘pulang tepat waktu’ itu, Mikail sedang berdiri dengan wajah kuyu di depan peti jenazah yang dingin.

 

 

***

 

 

Saat bus nomor 202 menuju sekolahnya berhenti dengan suara derit rem yang nyaring, Jian tetap bergeming. Ia membiarkan pintu bus tertutup kembali dan kendaraan itu melaju menjauh

Jian memutuskan menggunakan kebebasan tak terduga tanpa pengawasan Will hari ini untuk mencari tahu kabar Joon secara langsung. Ia merogoh kartu busnya, lalu menaiki bus berikutnya yang bertujuan ke arah pemukiman padat di pinggiran kota.

Setibanya di kediaman Joon, langkah Jian melambat. Rumah kecil itu tampak asing. Pagar besinya digembok rapat, debu mulai menumpuk di ambang pintu, dan tidak ada satu pun tanda kehidupan di sana. Jendela-jendelanya tertutup rapat, menyiratkan kekosongan yang dingin.

Saat Jian hendak berbalik dengan perasaan gelisah, ia melihat seorang nenek membawa sekantong belanjaan hendak masuk ke rumahnya yang berada persis di depan rumah Joon. Jian segera menghampiri.

“Nenek,” panggil Jian sopan.

Si nenek berhenti dan berbalik, menyipitkan mata sejenak sebelum tersenyum hangat. “Ada apa, Nak?”

“Apa mungkin Nenek tahu keluarga Park pergi ke mana?” tanya Jian ragu. “Kulihat rumahnya terkunci.”

“Ah, keluarga Park.” Nenek itu menoleh ke arah rumah yang terkunci itu. “Sekitar seminggu yang lalu mereka pindah ke kampung halaman ayahnya di Gurye. Jauh di Selatan sana. Kudengar mereka akan memulai bisnis ayam goreng di sana.”

Jian tertegun. Kabar kepindahan yang mendadak itu seolah menegaskan bahwa malam saat Will memukuli Joon adalah titik hancurnya persahabatan mereka. Namun, penjelasan nenek itu belum berakhir.

Lihat selengkapnya