The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #13

Bingkai Kenangan dalam Sangkar Emas

TIRAI putih tipis berkibar lembut tertiup angin. Dinding putih, bau antiseptik yang menusuk, dan keheningan yang menyesakkan menyambut kesadaran Jian. Ia mengerjap. Mencoba mengingat apa yang terjadi. Gambaran foto ayahnya di antara bunga krisan putih, Mikail dengan ban lengan, dan tuduhannya yang berteriak-teriak muncul silih berganti, bagai potongan kaca yang melukai ingatannya.

“Jian?”

Suara berat itu memecah sunyi. Jian menoleh kaku. Di kursi samping ranjang, Mikail duduk tegak dengan setelan jas hitam yang sama, meskipun kini kemejanya sedikit kusut. Wajahnya tampak lelah, dengan bayangan hitam di bawah mata, seolah tak tidur semalam suntuk.

Jian tak menjawab. Ia hanya menatap Mikail dengan pandangan kosong, dingin, seolah sedang memandang sebuah bayangan hitam. Dalam benaknya, panggilan Ahjussi yang penuh rasa hormat kini terasa menjijikkan. Untuk iblis sepertinya, tidak ada lagi kehormatan.

Mikail menghela napas. Menyadari kebencian yang terpancar jelas dari mata gadis itu. “Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?”

“Pembunuh,” desis Jian tajam.

Will yang berdiri di belakang, merasa tidak terima atas tuduhan itu, hendak menyangkal dan melangkah maju. “Jian....”

Namun, Mikail segera mencegahnya. “Will,” ucapnya rendah sambil menoleh sedikit melewati bahunya. Memberi isyarat agar asistennya itu tetap diam.

Jian menatap Mikail dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun penuh amarah. “Apa nyawa orang lain tidak ada artinya bagimu?”

Mikail tidak menyangkal. Alih-alih membela diri atau menjelaskan kecelakaan itu, ia justru memilih untuk memprovokasi. Membiarkan Jian percaya pada spekulasi terburuknya. “Seharusnya kau hanya memilih satu saat kuberi pilihan.”

Jian mengernyit. Dadanya terasa sesak. “Apa?”

Mikail memasang wajah datar. Bersikap seolah dia memang sekejam yang Jian tuduhkan. “Tidak seharusnya kau menanyakan kabar Joon saat kau sudah memilih untuk bertemu ayahmu.”

Mata Jian semakin panas. Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya hingga pandangannya mengabur. “Jadi maksudmu, hanya karena aku bertanya kabar Joon...,” sebulir air matanya menetes jatuh ke pipi, “aku harus kehilangan ayahku sebagai gantinya?”

Mikail menatapnya tanpa emosi. Menusuk tepat ke ulu hati Jian. “Begitulah kenyataannya.”

Seluruh tubuh Jian gemetar. Rasa benci yang meluap-luap kini mencapai puncaknya. Ia menatap Mikail seolah pria itu adalah parasit yang paling menjijikkan di dunia ini.

“Akma gat-eun saekki[1]!” maki Jian dengan penuh penekanan.

Mikail menekan rahangnya kuat-kuat hingga urat di lehernya menonjol, namun ia tetap tak bergeming dari tempat duduknya.

“Aku akan berdoa agar Tuhan memberikan penderitaan yang paling pedih untukmu,” lanjut Jian dengan suara yang pecah oleh tangis, “Dan kuharap kau tidak pernah mati dalam waktu dekat.”

Lihat selengkapnya