SORE itu, salju pertama mulai turun di Seoul. Membungkus kota dalam selimut putih yang dingin. Namun, di dalam ruang kerja Mikail yang berlapis kayu ek gelap, suhu terasa jauh lebih membeku. Jian berdiri mematung di depan meja kerja yang luas itu. Jemarinya mencengkeram erat sepucuk surat resmi dari administrasi sekolah—kertas yang seharusnya menjadi tiketnya untuk pergi, kini hanya berupa bukti pengkhianatan.
“Kenapa namaku ditarik dari daftar beasiswa SNU?” suara Jian pecah. Ia berusaha keras menahan getaran di tangannya agar tidak terlihat lemah di depan pria ini.
Mikail tidak mendongak. Pena mahalnya masih menari di atas dokumen. Mengeluarkan bunyi gesekan yang konsisten di tengah keheningan. “Aku yang membatalkannya. Sebagai walimu, aku sudah memutuskan jalur pendidikan yang lebih berguna untuk masa depanmu.”
“Masa depan menurutmu, bukan menurutku!” Jian membentak, kali ini tidak mampu menahan emosinya. “Itu tujuanku satu-satunya, dan kau menghancurkannya begitu saja setelah kau merusak hidupku!”
Barulah saat itu Mikail meletakkan penanya. Ia menyandarkan punggung, menatap Jian dengan netra yang sekeras batu pualam. “Dunia kedokteran tidak cocok untukmu. Kau akan masuk jurusan administrasi bisnis di bawah pengawasanku. Kau akan belajar mengelola perusahaan, bukan membuang waktu di laboratorium rumah sakit yang pengap,” ucapnya datar. Suaranya rendah namun penuh otoritas.
Mikail bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di hadapan Jian yang kini menatapnya dengan benci.
“Dan jangan lupa, kau sendiri yang bilang akan menurut saat kau memilih untuk bertemu ayahmu,” bisik Mikail, mengingatkan janji yang pernah diucapkan Jian dengan nada yang menusuk. “Kau sudah berjanji, Jian. Jadi berhentilah bersikap sulit dan terima kenyataannya. Ini perintah. Bukan negosiasi.”
Jian terdiam seketika. Kata-kata itu seperti sebuah palu yang menghantam kaca. Janji yang ia buat dalam keputusasaan kini berbalik menjerat lehernya sendiri. Cahaya di matanya meredup, digantikan oleh kekosongan hitam yang dingin. Ia tidak lagi membalas. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar, menyeret kakinya yang terasa seberat timah.
***
Malam itu, pemberontakan Jian dimulai dalam kesunyian.
Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggeser lemari hias kecil untuk mengganjal daun pintu. Ia tidak butuh siapa pun. Ia tidak sudi menyentuh apa pun yang berasal dari pria itu.
Saat pelayan yang biasa melayaninya mengetuk pintu membawa nampan berisi makanan, Jian hanya duduk memeluk lututnya di ujung ranjang. Ia membiarkan ketukan itu memudar menjadi keheningan.
Hari pertama, nampan itu kembali ke dapur tanpa disentuh sedikit pun. Mikail hanya meliriknya dengan rahang mengeras saat Will melaporkan penolakan itu.
Hari kedua, rintihan tertahan mulai terdengar dari balik pintu. Tubuh Jian mulai menggigil efek stres dan perut kosong, namun ia tetap bungkam. Mikail mulai mondar-mandir di koridor depan kamar. Tangannya mengepal kuat, menahan diri agar tidak mendobrak pintu itu sekarang juga.
Hari ketiga, tidak ada lagi suara dari dalam. Bahkan suara napas yang biasanya berat karena asma pun tak terdengar. Nampan sarapan kembali dibawa turun dalam keadaan mendingin dan utuh.
Di dalam kamar yang gelap, Jian terbaring lemah di atas karpet. Ia menatap kosong ke arah pintu dengan kesadaran yang mulai kabur. Baginya, mati perlahan jauh lebih baik daripada harus hidup menjadi boneka bisnis milik pria yang bahkan namanya saja enggan ia sebut lagi.